Peristiwa

Miris! Pasien Kanker Otak di Bandung Barat Harus Ditandu karena Jalan Rusak

×

Miris! Pasien Kanker Otak di Bandung Barat Harus Ditandu karena Jalan Rusak

Sebarkan artikel ini
Miris! Pasien Kanker Otak di Bandung Barat Harus Ditandu karena Jalan Rusak
Miris! Pasien Kanker Otak di Bandung Barat Harus Ditandu karena Jalan Rusak

PenaKu.ID – Jalan rusak di wilayah pelosok Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, kembali menjadi sorotan. Buruknya akses jalan di Kampung Cicapeu, Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, bahkan membuat warga harus bergotong-royong menggotong seorang pasien menggunakan tandu sederhana untuk mendapatkan penanganan medis.

Peristiwa tersebut terjadi setelah ambulans tidak mampu menjangkau rumah pasien akibat kondisi jalan yang licin dan jalan rusak setelah diguyur hujan. Warga pun terpaksa menggunakan tandu berbahan bambu dan sarung untuk membawa pasien menuju lokasi yang bisa diakses kendaraan.

Dalam sebuah video yang beredar, sejumlah warga tampak bergantian memikul tandu melewati jalan rusak dengan kondisi medan yang cukup berat. Proses evakuasi tersebut membutuhkan waktu lebih dari satu jam hingga pasien dapat dibawa menuju kendaraan.

“Ripuh pokona mah,” ujar salah seorang warga yang ikut menggotong tandu, menggambarkan beratnya perjalanan yang harus ditempuh, Jumat, 30 Oktober 2026.

Kepala Desa Kidangpananjung, Yuyu Yuhaeni, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengungkapkan, pasien bernama Iis (45), warga Kampung Cicapeu, harus dievakuasi secara manual karena ambulans tidak dapat melintasi jalan rusak menuju kediamannya.

Iis diketahui mengidap kanker otak dan dijadwalkan menjalani pemeriksaan rutin di salah satu rumah sakit di Soreang Kabupaten Bandung. Kendati telah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, akses menuju fasilitas kesehatan masih menjadi kendala serius yang harus dihadapi.

“Kalau kemarau ambulans bisa masuk, termasuk kendaraan sayuran. Tapi kalau hujan enggak bisa. Jadi kemarin hujan, ambulans tidak bisa masuk sehingga harus ditandu,” kata Yuyu saat dikonfirmasi.

Jalan Rusak Sepanjang 2,6 Kilometer

Yuyu menjelaskan, ruas jalan rusak yang dikeluhkan masyarakat merupakan akses desa yang menghubungkan Kampung Gedugan, Cicapeu, hingga Cihanjuang dalam satu wilayah dusun.

Jalur tersebut memiliki panjang sekitar 2,6 kilometer dengan lebar kurang lebih 2,5 meter. Sayangnya, kerusakan di sejumlah titik membuat akses transportasi warga semakin terbatas, terutama ketika memasuki musim penghujan.

Menurut Yuyu, jalan tersebut terakhir kali mendapatkan perbaikan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) sekitar 15 tahun silam.

Pada masa itu, permukaan jalan masih dilapisi aspal. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi infrastruktur tersebut terus mengalami penurunan karena belum mendapatkan perbaikan secara menyeluruh.

Akibatnya, kendaraan masih relatif mudah melintas ketika cuaca cerah. Sebaliknya, saat hujan turun, permukaan jalan menjadi licin sehingga kendaraan kesulitan menjangkau permukiman warga.

Upaya Perbaikan Jalan Rusak Masih Terkendala Anggaran

Pemerintah Desa Kidangpananjung sebenarnya telah berupaya memperbaiki sejumlah bagian jalan dengan kemampuan anggaran yang terbatas.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni menambal titik-titik kerusakan menggunakan sekitar 50 sak semen. Namun, upaya tersebut belum cukup untuk mengatasi persoalan kerusakan yang membentang di sepanjang jalur tersebut.

Pihak desa juga telah mengusulkan perbaikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui pengajuan proposal. Meski demikian, hingga kini, penanganan secara menyeluruh masih belum terealisasi akibat keterbatasan anggaran.

Yuyu berharap usulan yang telah disampaikan pemerintah desa dapat memperoleh perhatian sehingga perbaikan jalan bisa segera dilakukan.

Warga Berharap Jalan Rusak Segera Diperbaiki

Bagi masyarakat Kampung Cicapeu, kondisi jalan bukan hanya menyangkut kenyamanan saat bepergian. Infrastruktur yang memadai merupakan kebutuhan mendasar untuk mendukung aktivitas ekonomi, mobilitas sehari-hari, hingga akses terhadap pelayanan kesehatan.

Kesulitan ambulans menjangkau rumah warga menjadi persoalan serius, terutama ketika terdapat masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis dalam keadaan mendesak.

Warga berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki jalan tersebut. Dengan begitu, kendaraan, termasuk ambulans, dapat menjangkau permukiman tanpa terkendala kondisi cuaca.

Peristiwa evakuasi pasien menggunakan tandu bambu ini menjadi gambaran nyata pentingnya pemerataan pembangunan infrastruktur. Sebab, akses jalan yang layak bukan sekadar fasilitas penunjang, melainkan kebutuhan vital yang berkaitan langsung dengan keselamatan dan kehidupan masyarakat.**