PenaKu.ID – Kondisi jembatan gantung yang menghubungkan Kecamatan Gununghalu dan Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, kian mengkhawatirkan. Sebuah mobil boks pengangkut makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terperosok saat melintasi jembatan berbahan kayu tersebut pada Senin (26/10/2026) sore.
Insiden itu terjadi sekitar pukul 15.25 WIB ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Kendaraan milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu melintas dari Desa Bunijaya, Kecamatan Gununghalu, menuju Kecamatan Rongga.
Jembatan yang menjadi penghubung Kampung Dukuh, Desa Bunijaya, dengan Kampung Pintu, Desa Cibedug, tersebut diduga licin akibat hujan. Kondisi itu, ditambah keadaan konstruksi jembatan yang telah rusak, diduga menyebabkan kendaraan kehilangan pijakan hingga terperosok.
Warga setempat bersama sejumlah pengendara yang melintas kemudian bergotong royong membantu proses evakuasi. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Sopir dan kernet dilaporkan tidak mengalami luka serius, sedangkan mobil boks mengalami kerusakan ringan.
Ajat Sumiarta (59), warga setempat, mengatakan kendaraan itu tengah melintas di jembatan kayu yang berada di perbatasan wilayah Kecamatan Gununghalu dan Kecamatan Rongga.
“Mobil MBG terperosok saat melintas di atas jembatan kayu yang merupakan perbatasan Desa Bunijaya RT03/RW10, Kecamatan Gununghalu dan perbatasan Desa Cibedug, Kecamatan Rongga,” kata Ajat saat dihubungi awak media, Senin (26/10/2026).
Menurut Ajat, kendaraan tersebut sedang menjalankan aktivitas pengambilan wadah makanan atau omprengan MBG dari sejumlah sekolah di sekitar lokasi.
“Mobil SPPG mau jemput omprengan (tempat MBG),” ujarnya.
Ia mengkhawatirkan kondisi jembatan yang terus memburuk dapat membahayakan keselamatan masyarakat apabila tidak segera mendapatkan penanganan.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, mudah-mudahan tidak ada korban. Namun kalau dibiarkan bisa saja memakan korban,” katanya.
Jembatan Tua Rusak dan Berlubang
Jembatan gantung yang membentang di atas aliran Sungai Cidadap itu disebut telah berdiri sejak 1908, pada masa kolonial Belanda. Hingga kini, jembatan tersebut masih menjadi salah satu akses penghubung bagi masyarakat di sekitar Gununghalu dan Rongga.
Namun, kondisi fisik jembatan dinilai semakin memprihatinkan. Sejumlah bagian lantai yang menggunakan potongan kayu terlihat lapuk, sementara sebagian lainnya telah berlubang karena material penutupnya tidak lagi utuh.
Selain kerusakan pada lantai jembatan, beberapa bagian besi juga tampak berkarat. Bahkan, terdapat besi penghubung sling dengan badan jembatan yang dilaporkan telah terlepas.
Kerusakan tersebut menimbulkan kekhawatiran karena jembatan masih digunakan untuk menunjang berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari pendidikan, perdagangan, pertanian, hingga mobilitas sehari-hari.
Ajat menjelaskan, pengguna jembatan berasal dari berbagai kalangan, termasuk pelajar, pedagang, petani, pejalan kaki, serta pengendara sepeda motor. Kendaraan roda empat juga masih melintasi jalur tersebut karena menjadi salah satu akses alternatif bagi warga Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur.
“Yang melintas di situ banyak warga sekitar, baik dari Cianjur maupun Bandung Barat. Jembatan ini merupakan akses jalan alternatif dua kecamatan dan dua kabupaten,” jelasnya.
Warga Khawatir Jembatan Putus dan Memutus Akses
Kerusakan yang belum tertangani secara permanen membuat warga khawatir jembatan tersebut semakin rapuh hingga tidak dapat digunakan. Jika akses itu terputus, masyarakat harus menempuh jalur alternatif dengan waktu perjalanan sekitar 30 menit.
“Ada jalan lain lewat Bunijaya, sekitar 30 menit kalau muter jika jembatan itu putus,” ujar Ajat.
Selama ini, warga berupaya mempertahankan fungsi jembatan melalui perbaikan secara swadaya. Mereka mengumpulkan dana secara bersama-sama untuk memperbaiki bagian yang rusak agar jembatan tetap dapat dilalui.
“Perbaikan jembatan dilakukan oleh warga secara swadaya, ngenceleng (iuran), kadang melalui door to door,” ungkapnya.
Menurut Ajat, masyarakat telah mengajukan permohonan perbaikan kepada pemerintah. Namun, hingga kini, pembangunan maupun perbaikan permanen yang diharapkan warga belum terealisasi.
Ia menyebutkan, lahan tempat jembatan berdiri merupakan aset PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, kata dia, sebelumnya telah menyampaikan rencana untuk memperbaiki jembatan tersebut.
“Ini lahan milik PTPN (BUMN). Dari pemerintah Bandung Barat sudah berjanji akan memperbaiki saat warga melakukan perbaikan di tahun 2025 lalu (swadaya). Katanya akan diperbaiki 2026, sekarang mundur tahun 2027,” katanya.
Ajat menuturkan, salah satu kendala yang disebutkan terkait rencana pembangunan adalah status lahan yang belum diserahterimakan dari PTPN kepada Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.
“Alasannya ini lahan belum serah terima dari PTPN ke Pemkab Bandung Barat, karena ini akses jalan milik perkebunan,” ujarnya.
Warga berharap persoalan administrasi dan status kepemilikan lahan tersebut segera memperoleh kejelasan agar pembangunan jembatan permanen dapat direalisasikan.
Mereka menilai keberadaan jembatan yang aman dan layak sangat penting untuk mendukung kegiatan ekonomi, pendidikan, pertanian, serta kelancaran mobilitas masyarakat yang melintasi perbatasan kedua kabupaten.
Warga Minta Dedi Mulyadi dan Bupati Jeje Meninjau Lokasi
Masyarakat juga meminta perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, untuk melihat langsung kondisi jembatan yang menghubungkan Gununghalu dan Rongga tersebut.
Ajat berharap pemerintah provinsi dapat meninjau lokasi sekaligus mendorong penyelesaian persoalan yang selama ini menghambat perbaikan jembatan.
“Untuk Bapak KDM, tolonglah datang sekali-kali ke Rongga-Gununghalu dan meninjau lokasi jembatan yang memprihatinkan ini,” katanya.
Selain kepada gubernur, warga menyampaikan harapan serupa kepada Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail. Ajat mengaku telah berusaha menghubungi bupati melalui akun media sosial pribadinya, tetapi belum memperoleh tanggapan.
“Untuk Bapak Bupati Jeje Ritchie Ismail, tolonglah datang ke warga kami. Sudah menghubungi melalui akun sosmed pribadi, namun belum direspons agar bisa datang dan periksa kondisi di lokasi, warga hanya ingin jembatan permanen tolong keluhan kami didengar,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret sebelum kerusakan jembatan semakin parah dan membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Insiden terperosoknya mobil boks pengangkut MBG tersebut menjadi pengingat akan pentingnya penanganan infrastruktur yang digunakan masyarakat setiap hari. Warga kini menantikan realisasi perbaikan permanen agar akses penghubung Gununghalu–Rongga dapat digunakan dengan lebih aman.**










