PenaKu.ID – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) bersama Kementerian Agama (Kemenag) tengah mengupayakan relokasi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tegalkoneng di Kampung Tegalkoneng, Desa Buninagara, Kecamatan Sindangkerta, KBB, Jawa Barat, setelah dua ruang kelas sekolah tersebut ambruk akibat hujan deras dan diduga berkaitan dengan pergeseran tanah.
Kondisi bangunan yang dinilai sudah tidak aman membuat kegiatan belajar mengajar (KBM) untuk sementara dilaksanakan secara daring. Relokasi menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan sambil menunggu upaya pembangunan atau perbaikan bangunan baru.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) Kemenag KBB, Deden Sarif Hidayatullah, mengatakan hasil asesmen di lokasi menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap pergerakan tanah apabila hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.
“Jadi sebelum ada pembangunan baru, kami sudah meminta kepada pimpinan untuk direlokasi ke tempat yang lain. Walaupun ikhtiar untuk perbaikan kelas sedang diajukan di daerah, kami juga berupaya untuk perbaikan bangunan baru,” kata Deden saat ditemui di Kantor Kemenag KBB, Senin (28/9/2026).
Lima Ruang Kelas MI Tegalkoneng Dinilai Tak Layak
Deden menjelaskan, pertimbangan relokasi tidak hanya didasarkan pada dua ruang kelas yang ambruk. Kondisi sejumlah ruangan lainnya juga dinilai sudah tidak layak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Dari total lima ruang yang tersedia, dua ruang mengalami kerusakan berat. Salah satunya telah ambruk, sedangkan satu ruang lainnya mengalami kerusakan ringan, tetapi kondisinya nyaris roboh.
Sementara itu, tiga ruang kelas lainnya juga dinilai tidak layak digunakan karena bangunan mengalami pelapukan dan kerusakan.
“Untuk kegiatan belajar mengajar saya berlakukan online, karena dikhawatirkan ada bangunan yang rubuh lagi. Mengingat tembok dan atap sudah lapuk dimakan usia, dikhawatirkan mengganggu aktivitas anak didik,” ujarnya.
Perbaikan MI Tegalkoneng Terkendala Keterbatasan Anggaran
Menurut Deden, kondisi bangunan MI Tegalkoneng sebenarnya telah menjadi perhatian pihak sekolah sebelum dua ruang kelas ambruk.
Sekolah sebelumnya telah mengajukan usulan perbaikan bangunan. Namun, keterbatasan anggaran membuat upaya perbaikan belum dapat dilakukan secara maksimal.
Salah satu kendalanya adalah jumlah siswa yang relatif sedikit. Kondisi tersebut berdampak pada besaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diterima pihak sekolah.
“Memang sebelumnya dari pihak sekolah sudah diusulkan perbaikan, namun belum maksimal karena kekuatan anggaran di lembaga kurang. Jumlah siswanya sedikit sehingga penerima dana BOS juga sedikit,” jelasnya.
Dengan keterbatasan anggaran tersebut, perbaikan yang dilakukan selama ini masih bersifat sederhana. Di antaranya dengan menutup bagian bangunan yang berlubang menggunakan material kayu sesuai dengan kemampuan anggaran sekolah.
Jumlah Siswa MI Tegalkoneng Menurun
Kondisi bangunan yang semakin memprihatinkan turut berdampak terhadap jumlah peserta didik di MI Tegalkoneng.
Deden menyebutkan, jumlah siswa mengalami penurunan pada 2026. Kondisi bangunan yang telah lapuk membuat sebagian orang tua khawatir menyekolahkan anak mereka di madrasah tersebut.
“Pada tahun 2026 ini ada sedikit penurunan jumlah siswa karena kondisi bangunan sudah lapuk. Orang tua murid juga takut menyekolahkan anaknya di madrasah tersebut melihat kondisi seperti ini,” katanya.
Lokasi Relokasi Belum Diputuskan
Kendati demikian, hingga kini belum ada keputusan final mengenai lokasi relokasi MI Tegalkoneng.
Deden mengatakan, proses relokasi masih harus melalui pembahasan karena MI Tegalkoneng merupakan lembaga pendidikan masyarakat, bukan sekolah negeri milik pemerintah.
Berdasarkan hasil monitoring, terdapat salah satu aset berupa tanah desa atau tanah carik yang berpotensi menjadi lokasi alternatif. Namun, pemanfaatan lahan tersebut masih harus dibahas dan dikaji, terutama terkait hak guna pakai.
“Kalau dari Kemenag sendiri belum ada arahan terkait relokasi, karena itu sekolah masyarakat, bukan negeri. Dari hasil monitoring kemarin ada salah satu tanah desa (carik) yang akan dibahas ke depannya, termasuk hasil kajian untuk kaitan hak guna pakai,” ungkap Deden.
Dua Ruang Kelas Ambruk Saat Hujan Deras
Sebelumnya, dua ruang kelas MI Tegalkoneng ambruk pada Sabtu dini hari, 19 September 2026, sekitar pukul 01.00 WIB.
Bangunan sekolah yang berada di Kampung Tegalkoneng, Desa Buninagara, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, tersebut ambruk setelah wilayah setempat diguyur hujan deras.
Camat Sindangkerta, Agus Achmad Setiawan, memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
“Pada saat peristiwa terjadi, kondisi cuaca di wilayah tersebut juga tengah diguyur hujan deras,” kata Agus, Minggu (20/9/2026).
Berdasarkan hasil asesmen atau kaji cepat petugas di lapangan, kerusakan bangunan diduga kuat berkaitan dengan pergeseran tanah di sekitar lokasi.
Kerusakan terjadi pada seluruh bagian bangunan, mulai dari tembok, rangka atap hingga genting, hingga akhirnya dua ruang kelas tersebut roboh.
Agus mengatakan, petugas bersama unsur kewilayahan telah melakukan asesmen untuk memastikan keamanan bangunan sekaligus mendata dampak kerusakan.
“Kebutuhan paling mendesak saat ini adalah ruang kelas pengganti atau darurat untuk menunjang kegiatan belajar mengajar siswa,” ujarnya.
Sementara itu, pemerintah masih melakukan pendataan terhadap total kerugian akibat ambruknya dua ruang kelas tersebut. Karena itu, nilai kerugian secara keseluruhan belum dapat dipastikan.
Warga Diminta Waspadai Bencana Hidrometeorologi
Di tengah kondisi cuaca yang sulit diprediksi, masyarakat Bandung Barat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Agus mengingatkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi meskipun wilayah tersebut telah memasuki periode musim kemarau.
“Meski musim kemarau, beberapa lokasi sudah dilaporkan mengalami hujan. Kalau hujan besar turun, masyarakat harus siaga terhadap potensi longsor dan bencana lainnya,” jelasnya.**











