PenaKu.ID – Mentari Sabtu pagi (21/03/2026) di Lapangan Serbaguna Lapas Kelas IIB Sukabumi Jawa Barat terasa berbeda. Aroma kemenangan Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah menyelinap di antara pagar-pagar tinggi, membawa serta senyum merekah dari wajah ratusan warga binaan. Hari itu, bukan sekadar ketupat dan opor yang mereka nantikan, melainkan sebuah amplop putih berisi “kado” berharga dari negara kebebasan yang selangkah lebih dekat.
Suasana khidmat mendadak berubah menjadi penuh binar saat Surat Keputusan (SK) Remisi Khusus Lebaran Idulfitri dibacakan. Sebanyak 309 warga binaan tampak tak kuasa menyembunyikan rasa syukur. Bagi mereka, remisi bukan sekadar urusan administratif, melainkan bukti bahwa perubahan arah hidup mereka diakui dan dihargai.
Rincian ‘Hadiah’ di Hari Kemenangan Lebaran Idulfitri
Di tengah gemuruh bahagia, rincian kebahagiaan itu pun dibagikan. Sebanyak 207 orang mendapatkan pengurangan masa tahanan selama satu bulan penuh, sementara 68 orang lainnya tersenyum dengan potongan 15 hari. Tak ketinggalan, 34 warga binaan mendapatkan “diskon” masa pidana paling besar, yakni 1 bulan 15 hari.
Keceriaan ini merangkul semua kalangan, mulai dari 180 warga binaan kasus narkotika, 127 kasus tindak pidana umum, hingga 2 orang dari kasus tindak pidana korupsi. Meski tahun ini belum ada yang langsung menghirup udara bebas (RK II), namun pemangkasan waktu ini sudah lebih dari cukup untuk memupuk harapan baru.
Bukan Sekadar Angka, Tapi Tentang Jiwa yang Kembali Fitrah
Kepala Lapas Kelas IIB Sukabumi, Budi Hardiono, saat menyerahkan SK secara simbolis, menekankan bahwa momen ini adalah titik balik. Mengutip pesan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Jenderal Pol. (Purn.) Agus Andrianto, Budi menegaskan bahwa remisi Lebaran adalah apresiasi bagi mereka yang sungguh-sungguh berbenah.
“Jadikan tempat ini sebagai wadah untuk memperbaiki diri, bukan sebagai batasan. Proses perubahan harus terus berlanjut, agar setiap dari kalian memiliki kesempatan untuk bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke masyarakat nanti,” ujar Budi kepada awak media.
Harapan yang Kembali Menyala
Bagi para warga binaan, Idulfitri kali ini terasa begitu bermakna. Di balik tembok kokoh, pembinaan yang humanis telah mengubah jeruji menjadi sekolah kehidupan.
Kini, dengan masa tahanan yang berkurang, kerinduan untuk kembali berkumpul dengan keluarga bukan lagi sekadar mimpi siang bolong, melainkan rencana yang kian nyata.
Hari itu, Lapas Sukabumi membuktikan bahwa di balik jeruji, harapan tidak pernah mati, dan hari kemenangan adalah milik siapa saja yang berani memperbaiki diri.**
