PenaPendidikan
Trending

Guru SMPN 1 Cihampelas Kangen PTM dan Siswa Didik

PenaKu.ID – Dunia pendidikan Indonesia menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi COVID-19 selama wabah menyerang negeri ini.

Kebijakan pemerintah untuk menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna memutus mata rantai penyebaran COVID-19 digadang-gadang menjadi langkah yang tepat.

Anjuran pembelajaran secara daring (online) dipilih sebagai solusi agar guru dan murid bisa tetap melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai pendidik dan terdidik.

Sayangnya, di balik kebijakan tersebut juga menyisakan sejumlah permasalahan rumit yang tak kunjung mendapat titik temu. Meskipun pemerintah memberikan kuota data internet sebagai fasilitas untuk pembelajaran.

Namun, kondisi perekonomian yang dirasakan guru dan murid ini menjadi masalah lain yang turut berdampak pada metode pembelajaran daring.

Tak dapat dipungkiri, jika seorang pengajar wanita atas nama Dian Diana yang sehari-harinya mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) I Cihampelas merasa banyak momen indah hilang serta kurang sempurna dalam mengajar.

Apalagi, Dian menilai bahwa sekolah adalah tempat 60 persen fasilitas untuk belajar baik online maupun dengan langsung. Sehingga, para pelajar dapat mengumpulkan langsung tugasnya sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

“Pembelajaran tatap muka (PTM) tidak dapat tergantikan dengan pembelajaran daring, pembangunan karakter pada anak-anak menjadi kesulitan tersendiri,” kata Dian saat dihubungi, Kamis (26/5/2021).

Baca juga:

“Saya sangat rindu canda, tawa, keriangan, ekspresi mereka, curhatan mereka. Saya sanga rindu dengan hal-hal yang dulu ada sebelum pandemi merajalela,” ucap Dian.

Meski, pemerintah berencana kembali melaksanakan sistem pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas sesuai dengan instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Juli mendatang.

Walau begitu, pihaknya tidak ingin bereuforia dengan hal itu. Apalagi, saat ini beredarnya kabar peningkatan angka orang yang yang terkonfirmasi COVID-19.

Menurutnya, perlu upaya preventif dilakukan sebelum bertemu dengan para siswa pada saat PTM digelar kembali. Dengan begitu, dirinya harus memastikan diri telah melakukan vaksinasi.

“Membatasi jumlah siswa di kelas sesuai dengan anjuran Kemendikbud, disiplin dalam penerapan prokes COVID-19 untuk mencegah adanya penularan serta membawa alat makan sendiri dari rumah,” ujar Dian.

Dirinya mengaku sering dibanjiri pertanyaan dari para pelajar yang sangat menginginkan PTM segera dilaksanakan. Pihaknya menilai bahwa para pelajar sudah bosan dengan sistem pembelajaran daring.

“Anak-anak merasa bosan dan jenuh terus menerus berbagai tugas yang diberikan dari berbagai mata pelajaran. Mereka kesulitan bersosialisasi dengan teman sekelasnya,” tuturnya.

Selain itu, dirinya memiliki cara tersendiri sebagai langkah awal untuk mengembalikan semangat para pelajar saat proses pembelajaran tatap muka (PTM) dilaksanakan dengan kondisi masi di masa pandemi.

“Pertemuan awal saya akan cari tahu karateristik siswa, mengenal lebih dalam dengan curahan hati. Karena selama setahun nyaris tidak mengenal secara personal, saya ingin buat mereka nyaman dan aman saat PTM berlangsung,” paparnya.

“Saya akan memberikan games menarik sebagai awal dalam pemulihan mental siswa. Diberi stimulus ringan yang membuat mereka mengerti dengan kondisi PTM berbeda akibat pandemi,” tambahnya.

Dia pun menjelaskan, pelaksanaan PTM yang akan dilaksanakan kali ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Maka dirinya berharap kepada seluruh guru maupun siswa agar tetap selalu menerapkan prokes COVID-19.

“Tetap jaga imun, iman dan tetap jaga jarak aman. Ke depannya ada solusi terbaik untuk PTM, semoga rencana PTM di tahun ajaran baru membuat guru dan siswa lebih semangat belajar, mengembangkan diri dan mengeksplor kemampuan untuk berekreasi dan berinovasi,” pungkasnya.

(CDR)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button