Peristiwa

Ayam Petelur dan Jagung BUMDes Kertajaya Cianjur Tumbang

Ayam Petelur dan Jagung BUMDes Kertajaya Cianjur Tumbang
Ayam Petelur dan Jagung BUMDes Kertajaya Cianjur Tumbang

PenaKu.ID – Upaya penguatan ketahanan pangan yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kertajaya Sawarga, Desa Kertajaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengalami kegagalan panen pada 2025. Dua sektor utama yang terdampak ialah usaha ternak ayam petelur dan budidaya jagung manis, yang keduanya terpukul akibat cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi berkepanjangan.

Salah seorang pengelola ternak ayam petelur BUMDes Kertajaya Sawarga, Wahid (45), menjelaskan bahwa jumlah ayam petelur yang dikelola mencapai 690 ekor. Pada awalnya, produksi telur berada di kisaran 15 hingga 20 kilogram per hari. Namun, angka tersebut dinilai belum memberikan keuntungan optimal karena dalam kondisi normal produksi seharusnya dapat mencapai sekitar 30 kilogram per hari.

Memasuki Oktober hingga November 2025, hujan turun hampir tanpa jeda di wilayah Desa Kertajaya. Bahkan, dalam beberapa periode, hujan mengguyur kawasan tersebut selama sepekan penuh tanpa berhenti. Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan produksi telur.

“Produksi yang biasanya sekitar 20 kilogram per hari perlahan turun menjadi 17 kilogram, lalu 15 kilogram, 9 kilogram, hingga akhirnya hanya sekitar 5 kilogram per hari,” ujar Wahid, Sabtu (14/2/26).

Apa Upaya BUMDes Kertajaya?

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan produktivitas ternak, termasuk pemberian vitamin dan peningkatan perawatan guna menjaga daya tahan tubuh ayam. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan.

“Kami terus berupaya, salah satunya dengan pemberian vitamin agar ayam tetap sehat dan produktif. Namun kenyataannya produksi justru turun drastis hingga hanya 5 kilogram per hari,” katanya.

Wahid menambahkan, kondisi tersebut telah diketahui seluruh pengurus BUMDes, Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga masyarakat. Serangkaian musyawarah pun telah dilakukan, yang akhirnya memutuskan penghentian sementara usaha ternak ayam petelur tersebut.

“Sejak awal hingga akhir kejadian, semuanya diketahui pengurus BUMDes, kepala desa, BPD, dan masyarakat. Sudah beberapa kali dimusyawarahkan dan diputuskan untuk dihentikan sementara,” tambahnya.

Kegagalan serupa juga dialami usaha budidaya jagung manis milik BUMDes Kertajaya Sawarga. Tim teknis pengelola kebun jagung, Adnan (42), menyebutkan bahwa jagung manis ditanam di lahan seluas sekitar 3,2 hektare yang tersebar di beberapa lokasi berbeda.

Pada fase awal penanaman hingga usia tiga pekan, pertumbuhan tanaman jagung dinilai cukup baik dan menjanjikan. Namun, kondisi berubah drastis saat curah hujan tinggi melanda wilayah tersebut pada Oktober hingga November 2025.

“Hujan turun terus-menerus hampir tanpa jeda. Lahan jagung yang berada di area sawah terendam air,” ujar Adnan.

Pihak pengelola bersama BUMDes sempat melakukan upaya perbaikan saluran air dan parit agar genangan cepat surut. Akan tetapi, hujan yang terus turun justru membuat air semakin menggenangi area kebun.

“Air bukannya surut, malah semakin menutup lahan. Akibatnya, banyak daun jagung menguning, sulit berbuah, bahkan tidak sedikit tanaman yang mati karena terendam,” katanya.

Dalam kondisi normal, kebun jagung manis seluas tersebut ditargetkan mampu menghasilkan panen hingga 30 ton. Namun realisasi panen jauh dari target.

“Hasil panen yang didapat hanya sekitar 1,5 ton. Ini jelas gagal panen akibat faktor alam,” ucap Adnan.

Penyebab Utama BUMDes Kertajaya Gagal Panen

Ketua BUMDes Kertajaya Sawarga, Atep Kurniawan, membenarkan kegagalan panen pada dua sektor usaha ketahanan pangan tersebut. Menurutnya, faktor utama penyebab kegagalan adalah kondisi cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi yang berlangsung lama.

“Memang benar, usaha ketahanan pangan yang dikelola BUMDes Kertajaya Sawarga, baik ternak ayam petelur maupun tanaman jagung manis, keduanya gagal panen akibat faktor alam,” ujar Atep.

Ia menegaskan bahwa kegagalan tersebut telah diketahui dan dibahas bersama Pemerintah Desa Kertajaya serta BPD. Hasil musyawarah telah dituangkan dalam berita acara resmi.

Selain itu, pihak BUMDes juga telah melaporkan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Cianjur melalui dinas dan instansi terkait, serta kepada pihak Kecamatan Ciranjang.

“Kami telah melakukan musyawarah dengan Pemerintah Desa Kertajaya dan BPD, menghasilkan berita acara, dan melaporkannya ke Pemkab Cianjur melalui dinas terkait serta ke Kecamatan Ciranjang,” pungkas Atep.**

Exit mobile version