Pemerintahan

Waspada Rabies! Bandung Barat Targetkan 2.000 Vaksin Gratis

×

Waspada Rabies! Bandung Barat Targetkan 2.000 Vaksin Gratis

Sebarkan artikel ini
Waspada Rabies! Bandung Barat Targetkan 2.000 Vaksin Gratis
Waspada Rabies! Bandung Barat Targetkan 2.000 Vaksin Gratis

PenaKu.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat, Jawa Barat, melalui Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) terus memperkuat upaya pencegahan rabies dengan meningkatkan edukasi masyarakat dan vaksinasi terhadap hewan penular rabies (HPR).

Upaya tersebut kembali digaungkan dalam momentum World Rabies Day atau Hari Rabies Sedunia 2026 yang diperingati setiap 28 September. Tahun ini, Dispernakan Kabupaten Bandung Barat menargetkan pemberian 2.000 dosis vaksin rabies gratis di sejumlah lokasi.

Kepala Dispernakan Kabupaten Bandung Barat, drh. Wiwin Aprianti, M.Si., mengatakan peringatan Hari Rabies Sedunia menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya rabies sekaligus pentingnya vaksinasi bagi HPR.

Mengusung tema “Rabies, Stronger Together!”, Dispernakan KBB menggelar talkshow bertajuk “Satu Tujuan: Rabies, Stronger Together!” yang disiarkan secara langsung melalui media sosial pada Senin, 28 September 2026.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapat edukasi mengenai rabies, mulai dari pengenalan penyakit, cara penularan, ciri-ciri hewan yang terinfeksi, hingga pertolongan pertama setelah seseorang mengalami gigitan HPR.

Rabies Hampir 100 Persen Mematikan Jika Gejala Muncul

Wiwin menjelaskan, rabies merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Lyssavirus yang menyerang sistem saraf pusat.

Penyakit tersebut sangat berbahaya karena tingkat kematiannya hampir mencapai 100 persen ketika gejala klinis sudah muncul, baik pada hewan maupun manusia.

“Rabies adalah penyakit yang disebabkan virus Lyssavirus yang menyerang sistem saraf pusat. Disebut paling berbahaya karena memiliki tingkat kematian hampir 100 persen jika sudah muncul gejala klinis, baik pada hewan maupun manusia,” ujar Wiwin dalam keterangannya, Senin.

Meski memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi setelah gejala klinis muncul, rabies merupakan penyakit yang dapat dicegah melalui vaksinasi.

“Padahal, penyakit ini 100 persen bisa dicegah dengan vaksinasi,” katanya.

Kenali Hewan Penular Rabies

Menurut Wiwin, sejumlah hewan di Indonesia dapat menjadi Hewan Penular Rabies (HPR). Hewan yang menjadi penular utama adalah anjing, kemudian kucing dan kera.

Masyarakat pun diminta mengenali perubahan perilaku pada hewan yang diduga terinfeksi rabies.

Secara klinis, terdapat dua bentuk gejala yang umum ditemukan, yakni bentuk ganas dan bentuk diam.

Pada bentuk ganas, hewan dapat berubah menjadi agresif, menggigit benda atau hewan lain, takut terhadap air dan cahaya, serta mengeluarkan air liur secara berlebihan.

Sementara itu, bentuk diam ditandai antara lain dengan kelumpuhan, rahang menggantung, dan kesulitan menelan.

Rabies Menular Melalui Gigitan hingga Jilatan pada Luka

Wiwin mengatakan, penularan rabies dari hewan kepada manusia terutama terjadi melalui gigitan hewan yang telah terinfeksi.

Virus rabies terdapat dalam air liur hewan. Karena itu, kontak air liur dengan luka terbuka maupun bagian tubuh tertentu juga perlu diwaspadai.

“Penularan utama melalui gigitan hewan yang terinfeksi karena virus ada di air liurnya. Bisa juga melalui cakaran atau jilatan pada luka terbuka atau selaput lendir mata atau mulut,” jelasnya.

Meski demikian, rabies tidak menular kepada manusia melalui kontak biasa antarmanusia.

Kasus Positif Hewan Terakhir Tercatat pada 2020

Terkait kondisi rabies di Kabupaten Bandung Barat, Wiwin menyebutkan wilayah tersebut saat ini masih berstatus tertular.

Laporan mengenai gigitan HPR juga masih ditemukan. Namun, kasus positif rabies terakhir pada hewan tercatat pada 2020, sedangkan kejadian rabies pada manusia terakhir terjadi pada 2023.

“Risiko terhadap rabies tetap ada akibat lalu lintas hewan yang tinggi dan banyaknya hewan liar penular rabies,” katanya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap remeh keberadaan anjing, kucing, maupun hewan lain yang tidak diketahui status vaksinasinya.

Vaksinasi Rabies Efektif Lebih dari 95 Persen

Menurut Wiwin, vaksinasi merupakan salah satu langkah utama untuk mencegah penyebaran rabies pada hewan peliharaan.

Efektivitas vaksinasi rabies disebut mencapai lebih dari 95 persen dalam mencegah penyakit tersebut.

Ia menyarankan vaksinasi pertama diberikan ketika anak anjing atau kucing berusia minimal empat bulan. Setelah itu, vaksinasi penguat atau booster diberikan setiap satu tahun sekali sepanjang hidup hewan.

“Jangan tunggu digigit baru vaksin,” tegasnya.

Selain vaksinasi, Dispernakan KBB mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan luka akibat gigitan hewan yang diduga sebagai HPR meskipun luka tersebut terlihat kecil.

Pertolongan Pertama Saat Digigit HPR

Pertolongan pertama yang harus dilakukan adalah segera mencuci luka menggunakan air mengalir dan sabun atau deterjen selama 15 menit.

Luka juga tidak dianjurkan langsung ditutup atau dijahit sebelum mendapatkan penanganan medis.

Setelah luka dicuci, korban harus segera mendatangi Puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) sesuai indikasi medis.

“Mencuci luka itu bisa mengurangi jumlah virus sampai 80 persen,” ungkap Wiwin.

Anjing dan Kucing Liar Jadi Perhatian

Keberadaan anjing dan kucing liar yang tidak mendapatkan vaksinasi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pencegahan rabies.

Wiwin mengatakan, hewan yang tidak divaksinasi berpotensi menjadi reservoir virus dan meningkatkan risiko penularan apabila terjadi kontak dengan manusia maupun hewan peliharaan lainnya.

“Populasi yang tidak terkontrol akan meningkatkan risiko kontak dengan manusia dan hewan peliharaan,” katanya.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dispernakan KBB menjalankan sejumlah program, di antaranya vaksinasi rabies, sterilisasi bersubsidi, serta peningkatan keterlibatan masyarakat melalui pembentukan kader zoonosis.

Kader tersebut diharapkan menjadi mitra dalam pelaporan dan deteksi dini penyakit zoonosis di lingkungan masyarakat.

Dispernakan juga melakukan respons cepat terhadap laporan kasus gigitan HPR.

Dispernakan Targetkan 2.000 Vaksin Rabies Gratis

Dalam rangka World Rabies Day 2026, Dispernakan KBB menargetkan pemberian 2.000 dosis vaksin rabies gratis.

Program tersebut dilaksanakan di sejumlah lokasi dengan melibatkan dokter hewan profesional, klinik hewan swasta, unit usaha mitra, komunitas, serta masyarakat, termasuk lingkungan perumahan di wilayah Bandung Barat.

Program vaksinasi gratis tersebut masih terus dilaksanakan. Adapun persyaratan vaksinasi rabies bagi hewan peliharaan meliputi kondisi sehat, berusia minimal empat bulan, dan tidak sedang bunting.

Sterilisasi Kucing Bersubsidi

Selain vaksinasi rabies, Dispernakan KBB menggelar program sterilisasi kucing bersubsidi dengan target 100 ekor kucing jantan dan 100 ekor kucing betina.

Program tersebut telah dilaksanakan sejak awal September 2026 di Klinik Hewan Cempakamekar dan Klinik Hewan Cisarua.

Biaya sterilisasi bersubsidi ditetapkan sebesar Rp185.000 untuk kucing jantan dan Rp260.000 untuk kucing betina.

Persyaratannya antara lain kucing dalam kondisi sehat dan berusia minimal tujuh bulan. Untuk kucing jantan, kedua testis harus sudah turun, sedangkan kucing betina tidak sedang bunting atau minimal 1,5 bulan setelah melahirkan.

Kucing juga harus dipuasakan selama delapan jam sebelum menjalani operasi.

World Rabies Day 2026 Libatkan Berbagai Pihak

Dalam pelaksanaan rangkaian World Rabies Day 2026, Dispernakan KBB menggandeng berbagai pihak.

Pada pekan sebelumnya, misalnya, digelar kolaborasi bersama Indogrosir dan Me-O untuk pelaksanaan vaksinasi rabies gratis di Indogrosir Padalarang.

Sementara pada Senin, 28 September 2026, vaksinasi rabies dan pelayanan kesehatan hewan gratis dilaksanakan di Jogya Junction Lembang mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Rumah Sakit Hewan (RSH) Jawa Barat, PDHI Jabar 1, dan Jogya Junction.

Talkshow World Rabies Day 2026 menghadirkan drh. Wiwin Aprianti, M.Si., Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, sebagai narasumber.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan drh. Acep Rohimat, M.Tr.A.P., Kepala Bidang Kesehatan Hewan sekaligus Pejabat Otoritas Veteriner, yang bertindak sebagai host.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Dispernakan KBB mendorong masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap rabies. Salah satunya dengan memastikan hewan peliharaan mendapatkan vaksinasi secara rutin serta segera memperoleh penanganan medis apabila terjadi gigitan HPR.**