PenaKu.ID – Sebuah video yang memperlihatkan seorang perempuan sakit harus ditandu warga menggunakan alat darurat viral di media sosial. Peristiwa tersebut kembali menyoroti persoalan akses infrastruktur yang hingga kini masih dihadapi sebagian warga di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.
Belakangan diketahui, kejadian itu terjadi di Kampung Cipicung, RT 01 RW 03, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat. Dalam video yang beredar, sejumlah warga tampak bergotong-royong membawa seorang perempuan menggunakan tandu sederhana yang dirakit dari bambu, tali tambang, dan perlengkapan darurat lainnya.
Perempuan tersebut diketahui bernama Rina Fitri Yulianti (39). Ia terpaksa dievakuasi menggunakan tandu menuju lokasi ambulans karena kendaraan medis tidak dapat menjangkau rumahnya akibat keterbatasan akses jalan.
Ketua RW 03, Setiawan, membenarkan peristiwa tersebut. Menurut dia, kejadian itu berlangsung pada Senin pagi saat kondisi kesehatan Rina mendadak memburuk.
“Betul, kejadiannya kemarin pagi. Ada warga saya yang sakit terpaksa digotong sampai parkiran ambulans,” kata Setiawan, Rabu (17/6/2026).
Setiawan menjelaskan, Rina baru menjalani operasi sekitar sepekan lalu dan dijadwalkan menjalani kontrol lanjutan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada pekan ini. Namun sebelum jadwal kontrol tiba, jahitan pascaoperasi diduga kembali terbuka sehingga ia harus segera mendapatkan penanganan medis.
“Harusnya Rabu besok kontrol, tapi katanya jahitannya kebuka lagi, jadi kemarin pagi itu dibawa lagi ke rumah sakit,” ujarnya.
Ambulans Tidak Bisa Menjangkau Rumah Pasien di Bandung Barat
Kondisi jalan menuju permukiman warga menjadi kendala utama yang membuat ambulans tidak dapat masuk hingga ke rumah pasien. Akibatnya, warga harus mengevakuasi Rina secara manual menggunakan tandu darurat.
Warga membawa pasien menyusuri jalan setapak menuju lokasi ambulans yang terparkir di sekitar kawasan Stasiun Sasaksaat. Jarak yang harus ditempuh mencapai lebih dari 500 meter.
“Jadi ditandu itu karena memang ke sini enggak bisa diakses ambulans. Ditandunya itu sekitar 500 meter lebih menuju ambulans,” jelas Setiawan.
Menurutnya, persoalan akses jalan di Bandung Barat tersebut bukan kali pertama menimbulkan kesulitan bagi warga. Dalam berbagai kondisi darurat, termasuk saat ada warga yang hendak melahirkan, proses evakuasi kerap mengandalkan tenaga gotong-royong.
“Jadi ini bukan kejadian pertama, sebelumnya juga sudah sering. Apalagi kalau ada warga yang mau melahirkan, ambulans enggak sampai sini, jadi harus digotong,” katanya.
Usulan Pembangunan Jalan di Cipicung Bandung Barat Belum Terealisasi
Setiawan mengungkapkan, warga telah berulang kali mengusulkan pembangunan akses jalan agar kendaraan roda empat, termasuk ambulans, dapat masuk ke kawasan permukiman. Namun hingga kini usulan tersebut belum terealisasi.
“Sudah diajukan supaya mobil bisa masuk, tapi belum sampai sekarang. Mudah-mudahan ke depannya ada solusi,” tandasnya.
Viralnya video pasien yang harus ditandu sejauh ratusan meter itu menjadi sorotan publik sekaligus pengingat bahwa persoalan infrastruktur dasar masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Bandung Barat.
Di tengah berbagai pembangunan yang terus berjalan serta momentum Hari Jadi ke-19 Kabupaten Bandung Barat, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya warga yang menghadapi kesulitan memperoleh akses layanan kesehatan akibat keterbatasan infrastruktur jalan.
Pemerataan pembangunan, khususnya akses transportasi menuju layanan kesehatan, dinilai masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius agar kejadian serupa tidak terus berulang.**











