PenaKu.ID – Matahari di Desa Bantarsari memancarkan hangat yang beda pagi itu, Di halaman SDN Tegal Sadang, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, suasana lebaran masih terasa kental. Namun, alih-alih hanya bersalam-salaman formal, ada pemandangan yang lebih “gurih” untuk disaksikan. Sebuah barisan panjang mengular, bukan untuk upacara, melainkan untuk sebuah perayaan rasa dan kebersamaan.
Hari itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersalin rupa. Tak ada kotak makan plastik yang kaku. Sebagai gantinya, deretan meja tertata rapi menyajikan konsep prasmanan yang menggugah selera. Ini adalah cara Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Bantarsari Pabuaran merayakan momen Halalbihalal: dengan cara makan bersama layaknya keluarga besar di hari raya.
Aroma Kebersamaan di Balik Antrean Pelajar SDN Tegal Sadang
Uap hangat mengepul dari wadah-wadah besar. Di sana ada nasi putih yang pulen, ayam goreng yang garing keemasan, tumis brokoli hijau segar, hingga tempe bacem dan bumbu kuning yang kaya rempah. Bagi para siswa, ini bukan sekadar urusan perut, tapi sebuah pengalaman baru yang mewah namun membumi.
Kepala SPPG Bantarsari Pabuaran, Yadi, memandang kerumunan kecil itu dengan senyum bangga. Menurutnya, inovasi prasmanan ini adalah bumbu penyedap agar siswa tidak jenuh dengan rutinitas.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kami menanamkan nilai kebersamaan. Dengan dikemas menarik seperti ini, kami berharap para siswa semakin semangat untuk datang ke sekolah dan belajar,” ujar Yadi dengan nada antusias kepada awak media, Selasa (31/3/2026).
Pelajar SDN Tegal Sadang Belajar Karakter dari Piring yang Kosong
Memang, mengatur ratusan anak untuk mengambil makanan sendiri bukanlah perkara kilat. Antrean sempat memanjang hingga lebih dari satu jam, melewati batas waktu istirahat yang biasanya singkat. Namun, keajaiban justru terjadi di sana. Tak ada aksi saling sikut atau rengekan tidak sabar.
Di sela-sela aroma masakan, para siswa justru sedang mempraktikkan pelajaran karakter yang sesungguhnya. Mereka belajar tentang kesabaran menunggu giliran, kedisiplinan dalam antrean, hingga empati untuk berbagi porsi dengan kawan di belakangnya.
“Kami melihat respon siswa sangat hangat. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh di sana. Meski harus antre, mereka melakukannya dengan senang hati, bukan karena terpaksa,” tambah Yadi.
Kolaborasi yang Menghangatkan Hati
Keberhasilan “Pesta Rakyat Kecil” di sekolah ini tak lepas dari kolaborasi apik antara pihak sekolah dengan dapur penyedia MBG. Bagi para guru di SDN Tegal Sadang, kehadiran konsep prasmanan ini memberikan warna baru yang edukatif sekaligus rekreatif. Sekolah tak lagi hanya soal papan tulis, tapi juga tempat di mana rasa syukur dibagikan di atas piring.
Di pelosok Kabupaten Sukabumi ini, sebuah pesan tersampaikan dengan manis: bahwa perubahan besar terkadang tidak dimulai dari kebijakan yang rumit, melainkan dari sebuah meja prasmanan yang mempertemukan senyum dan semangat anak-anak bangsa.
Dalam sisa-sisa suasana Halalbihalal, MBG di SDN Tegal Sadang telah berhasil mengubah sekadar “jatah makan” menjadi sebuah “jamuan cinta”.**











