Ekonomi

Rupiah Tertekan, The Fed Tahan Suku Bunga dan Defisit NPI Jadi Kombinasi Sentimen Negatif

Rupiah Tertekan, The Fed Tahan Suku Bunga dan Defisit NPI Jadi Kombinasi Sentimen Negatif
Rupiah Tertekan, The Fed Tahan Suku Bunga dan Defisit NPI Jadi Kombinasi Sentimen Negatif/(pixabay)

PenaKu.ID – Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (20/11/2025), terdepresiasi 0,21% ke posisi Rp16.725/US$ berdasarkan data Refinitiv. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang bergerak di zona positif, mencerminkan sentimen pasar global yang cenderung risk-off dan berpihak pada Greenback.

Tekanan terhadap rupiah semakin kuat setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Kuartal III-2025 yang masih mencatatkan defisit sebesar US$6,4 miliar. Defisit NPI mengindikasikan lebih banyak uang yang keluar dari Indonesia daripada yang masuk, memberikan tekanan fundamental pada mata uang domestik.

Ekspektasi The Fed: Suku Bunga Bertahan Lebih Lama Rupiah

Faktor global yang paling dominan adalah menguatnya ekspektasi pasar bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan menahan pemangkasan suku bunga lebih lama. Hal ini diperkuat oleh risalah rapat The Fed (FOMC Minutes) yang menunjukkan mayoritas pejabat The Fed memilih untuk tidak memotong suku bunga pada Desember.

Sentimen ini meningkatkan permintaan terhadap dolar AS, yang bertindak sebagai aset safe-haven, dan menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Minimnya Data Tenaga Kerja AS Perkuat Sikap Hawkish The Fed dan Tekanan ke Rupiah

Ketidakpastian terkait data tenaga kerja AS, khususnya laporan nonfarm payrolls (NFP) yang gagal dipublikasikan akibat government shutdown, juga menambah tekanan.

Minimnya data ekonomi menjelang rapat FOMC membuat pasar berspekulasi bahwa The Fed akan semakin berhati-hati, yang berarti suku bunga AS cenderung bertahan tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.**

Exit mobile version