PenaKu.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini menjadi alarm keras bagi ketahanan energi nasional.
Anggota Komisi XI DPR RI, Mulyadi, menegaskan bahwa situasi geopolitik ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk segera beralih ke energi alternatif.
Mulyadi menyoroti isu krusial mengenai stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang dikabarkan hanya mampu bertahan selama 20 hari pasca-serangan di Timur Tengah.
Meski Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklarifikasi bahwa angka tersebut merujuk pada kapasitas penyimpanan dan bukan kondisi darurat, Mulyadi menilai Indonesia tidak boleh terlena.
Komisi XI DPR RI: Inovasi dari Jonggol untuk Dunia
Sebagai solusi nyata, Mulyadi memperkenalkan Bobibos, bahan bakar nabati (biofuel) hasil inovasi pemuda Jonggol, Kabupaten Bogor. Berbeda dengan biofuel pada umumnya, Bobibos memanfaatkan jerami sebagai bahan baku utama, sehingga tidak mengganggu rantai pasokan pangan.
“Kita sudah siap untuk itu. Bobibos ini sudah menjalani berbagai tahapan uji coba dan hasilnya sangat menjanjikan,” ujar Mulyadi yang juga menjabat sebagai Dewan Pembina Bobibos, Sabtu (7/3/2026).
Tersendat Regulasi Dalam Negeri, Dilirik Timor Leste
Ironisnya, meski memiliki potensi besar untuk memperkuat kedaulatan energi, pengembangan Bobibos di tanah air masih menemui jalan buntu. Politisi Gerindra ini mengungkapkan bahwa hambatan utama produksi massal bukan terletak pada kesiapan teknis, melainkan pada birokrasi dan regulasi.
Namun, hambatan di dalam negeri justru membuka pintu di pasar internasional. Bobibos secara mengejutkan sukses menjalin kerja sama pengembangan dan produksi dengan pemerintah Timor Leste.
“Sangat disayangkan jika potensi lokal ini sulit berkembang di rumah sendiri karena terbentur aturan, sementara negara tetangga justru lebih cepat menangkap peluang ini,” tambah Mulyadi.
Menanti Keberpihakan Pemerintah
Langkah Bobibos yang berhasil melakukan ekspansi ke Timor Leste menjadi tamparan sekaligus pembuktian bahwa teknologi energi alternatif Indonesia diakui kualitasnya.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah: apakah akan terus bergantung pada impor energi di tengah konflik global, atau mulai melonggarkan regulasi bagi inovasi energi terbarukan berbasis limbah pertanian seperti Bobibos.***
