PenaKu.ID – Keberadaan peternakan sapi yang dikelola PT Nusa Farm kembali menjadi sorotan warga sekitar. Pasalnya, aktivitas peternakan tersebut diduga menimbulkan gangguan lingkungan, terutama akibat banyaknya lalat yang beterbangan hingga masuk ke rumah-rumah warga dan lingkungan masjid.
Warga mengeluhkan keberadaan lalat yang jumlahnya dinilai cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut juga dikhawatirkan dapat berdampak terhadap kenyamanan dan kebersihan lingkungan masyarakat.
Serangan lalat yang berasal dari lingkungan peternakan bukan persoalan yang bisa dianggap sepele. Sejumlah kajian mengenai peternakan sapi menyebutkan bahwa lokasi peternakan yang berdekatan dengan permukiman dapat menimbulkan berbagai keluhan warga, termasuk bau dan gangguan akibat lalat.
Pengendalian lalat juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan peternakan. Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Peralatan Veteriner Kementerian Pertanian menyebut pengendalian lalat penting karena selain mengganggu ternak, lalat juga dapat menjadi vektor penyakit tertentu pada hewan.
Warga berharap pihak pengelola peternakan yang berada di Desa Linggasari, Kecamatan Darangdan, Purwakarta tersebut dapat segera mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan tersebut. Selain itu, pemerintah daerah melalui dinas terkait diminta turun ke lapangan untuk mengecek kondisi lingkungan peternakan serta memastikan pengelolaan limbah dan sanitasi dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Masyarakat juga berharap ada solusi agar aktivitas usaha peternakan tetap berjalan, namun tidak menimbulkan dampak yang merugikan warga di sekitar lokasi.
“Kami sangat merasakan sekali dampak yang negatif dari keberadaan peternakan sapi ini, hampir tiap hari lalat beterbangan ke areal mesjid dan sangat mengganggu jemaah yang tengah melaksanakan ibadah,” kata Ustad Farid salah seorang pengurus Mesjid Bashiroh ketika dihubungi, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, jika keberadaan kandang sapi (peternakan sapi,red) yang ditengarai milik PT Nusa Farm kerap menimbulkan dampak negatif kepada warga sekitar, maka sebaiknya pemerintah daerah menurunkan tim untuk melakukan investigasi.
Diakuinya, masyarakat sekitar beranggapan bahwa di kawasan tersebut bukan sebagai instalasi karantina hewan (IKH) tapi sebagai peternakan sapi.
“Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di sana merupakan peternakan sapi dengan jumlah sapi yang mencapai ratusan ekor,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Komunitas Pohon Indonesia (KPI) Agus T. Soemanagara yang menambahkan jika di lokasi kandang sapi di Desa Linggasari itu merupakan instalasi karantina hewan, meskinya pihak pengelola betul-betul memperhatikan kesehatan warga sekitar.
“Coba bayangkan kalau hewan ternak yang didatangkan dari luarnegeri membawa jenis penyakit tertentu dan menular ke warga, siapa yang akan bertanggung jawab,” kata Agus. T. Soemanagara.
Peternakan Sapi Milik Siapa?
Berdasarkan informasi yang dihimpun “PenaKu”, di Desa Linggasari tersebut selain terdapat instalasi karantina hewan (IKH) atas nama PT Andini Persada Sejahtera (PT APS) juga terdapat sejumlah kandang sapi (peternakan sapi) lainnya yang bersebelahan dengan PT APS yang sekarang berubah manajemen menjadi PT Nusa Farm.
Sampai berita ini dibuat, pihak PT Nusa Farm sebagai pengelola peternakan sapi tersebut belum memberikan konfirmasi maupun tanggapan terkait keluhan warga mengenai banyaknya lalat yang diduga beterbangan hingga masuk ke rumah dan masjid warga. ***











