PenaKu.ID – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 14 September 2026. Di pasar spot, rupiah ditutup pada level Rp17.648 per dolar AS hingga perdagangan sore.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp17.635 per dolar AS pada hari yang sama.
Posisi rupiah di pasar spot tersebut melemah dibandingkan penutupan perdagangan Jumat, 11 September 2026, yang berada di level Rp17.611 per dolar AS.
JISDOR BI pada Jumat lalu juga tercatat sebesar Rp17.611 per dolar AS. Dengan demikian, berdasarkan JISDOR, rupiah mengalami pelemahan sekitar Rp24 atau 0,14 persen dalam sehari.
Dolar AS Menguat, Rupiah Kembali Tertekan
Tekanan terhadap rupiah pada awal pekan tidak terlepas dari penguatan dolar AS di pasar global. Pergerakan mata uang juga dipengaruhi oleh sentimen investor yang mencermati perkembangan geopolitik serta kenaikan harga minyak dunia.
Situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu perhatian pelaku pasar. Di saat yang sama, kenaikan harga minyak dunia memunculkan kekhawatiran baru terhadap prospek inflasi global.
Harga minyak Brent bahkan dilaporkan meningkat sekitar 3 persen hingga menembus US$108 per barel. Kenaikan tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed
Selain perkembangan geopolitik dan harga minyak, pelaku pasar juga menunggu arah kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Ekspektasi terhadap keputusan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang dalam beberapa hari mendatang.
Rupiah Masih Dibayangi Sentimen Global
Tekanan terhadap rupiah bukan hanya berasal dari penguatan dolar AS. Ketidakpastian di pasar global juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.
Dalam kondisi ketidakpastian meningkat, investor cenderung memperbesar kepemilikan pada aset yang dinilai lebih aman. Situasi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Pergerakan harga minyak juga menjadi perhatian bagi Indonesia. Sebagai negara yang masih memiliki kebutuhan impor minyak, kenaikan harga energi dunia berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian dan nilai tukar.
Di dalam negeri, kebijakan Bank Indonesia turut menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar. Pada Agustus 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen.
Perbedaan JISDOR dan Kurs Pasar Spot
JISDOR dan kurs rupiah di pasar spot merupakan dua indikator nilai tukar yang berbeda sehingga angkanya tidak selalu sama.
JISDOR merupakan kurs referensi yang diterbitkan Bank Indonesia berdasarkan transaksi spot antarbank di pasar valuta asing domestik. Adapun kurs spot mencerminkan transaksi yang berlangsung di pasar selama perdagangan berjalan.
Karena itu, nilai tukar yang diterapkan bank dalam transaksi jual-beli dolar AS dengan nasabah dapat berbeda dari angka JISDOR maupun kurs spot.
Rupiah Masih Menghadapi Tekanan Eksternal
Perdagangan Senin, 14 September 2026 menunjukkan rupiah masih menghadapi sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi pergerakannya.
Investor selanjutnya akan mencermati perkembangan dolar AS, harga minyak dunia, kondisi geopolitik, serta keputusan The Fed.
Hingga perdagangan Senin sore, mata uang Garuda di pasar spot ditutup pada level Rp17.648 per dolar AS. Sementara itu, JISDOR Bank Indonesia berada di posisi Rp17.635 per dolar AS.** (tds)









