PenaOpini
Trending

Kejar Pecah Rekor PPKM Level 1

Opini oleh: Sri Mulyani Awaliyah (Guru SD di Kab Bandung)

PenaKu.ID – Inovasi dan kolaborasi berbagai level Pemerintahan, bersama masyarakat atau komunitas, akademisi, dunia usaha dan media massa menjadi penggerak utama dalam penanganan COVID-19 serta pemulihan ekonomi di Jawa barat. Hal tersebut dikatakan Wagub Jabar UU Rizhanul Ulum dalam acara talk show nasional, beliau menambahkan sinkronisasi data dan sinkronisasi kebijakan di Jabar, sesuai dengan arahan pusat dilaksanakan menyeluruh di daerah, semuanya kompak dalam satu kebijakan akhirnya kini kasus COVID-19 di Jabar melandai dan beberapa daerah berada di PPKM lever 3 dan 2. (Tribunjabar.id)

Permasalahannya apakah dengan kasus COVID-19 melandai dan berada di PPKM level 2 atau 3 artinya berhasil menangani wabah?

Pemerintah harus mengambil pelajaran dari meningkatnya kasus COVID-19 di Amerika yang terjadi akibat pelonggaran pada liburan musim panas, yang mereka merasa aman setelah divaksin, menganggap seolah corona hilang dan mengabaikan protokol kesehatan (cnbcindonesia.com 19/8/2021).

Ini menunjukkan bahwa kapitalisme telah gagal untuk ke sekian kalinya menangani pandemi. Langkah spekulatif yang berasas manfaat terbukti tidak mampu menangani pandemi, tarik ulur pembatasan dan pelonggaran aktivitas publik hanya makin memberi ruang bagi penyebaran virus corona, sehingga tidak mampu menuntaskan pandemi.

Ini sungguh berbeda dengan Islam dalam menangani pandemi (wabah). Pengalaman penanganan wabah tha’un pada masa khilafah Islam semestinya diterapkan kembali saat ini.

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab diceritakan dalam hadits yang artinya: “Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama sargh, saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah diwilayah Syam, Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, ” jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya, tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu”. (HR Bukhari)

Sebagai Gubernur Syam Amr bin ash berkhotbah “wahai manusia, penyakit ini terjadi seperti berkobar-kobarnya api, maka menjauhlah kalian ke gunung-gunung”, mereka pun berpencar Allah pun menjauhkan penyakit itu dari mereka.

Karakter pemimpin seperti ini hanya ditemukan di sistem yang mampu melahirkan sosok pemimpin sejati, bukan pemimpin spekulatif.

Kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan mutlak diperlukan semua pihak. Perlu adanya sistem penanggulangan yang terpusat dari mandat kepemimpinan seorang pemimpin yang melaksanakan tugas atas landasan aturan Allah SWT, sebab wabah berasal dari Allah, maka kembalikan solusinya kepada aturan yang Allah turunkan.

Wallahu alam bishawab

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button