PenaKu.ID – Di sela-sela aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Masyarakat Cigudeg Rumpin Parung Panjang (AMCRP) di Tegar Beriman Cibinong, Senin (4/5/2026), terselip kisah pilu dari para sopir truk tambang yang terdampak langsung oleh ketidakpastian regulasi dan penutupan jalur operasional.
Salah satu sopir truk tambang bernama Tusi, mengungkapkan betapa drastisnya penurunan pendapatan yang ia alami sejak polemik tambang di wilayah Bogor Barat memuncak.
Curhatan Sopir Tambang Dibalik Aksi Damai AMCRP di Tegar Beriman Cibinong
Jika biasanya ia bisa membawa pulang uang ratusan ribu rupiah, kini untuk sekadar memenuhi kebutuhan dapur pun ia harus memutar otak lebih keras.
“Dampaknya banyak banget, sekarang serba mahal, barang-barang mahal. Ibarat harga emas sekarang mah,” ujar Tusi salah satu sopir tambang dengan nada getir dari balik kemudi truknya kepada PenaKu.ID.
Ia membandingkan penghasilannya saat kondisi tambang masih berjalan normal dengan situasi saat ini. Menurutnya, perbedaan pendapatan tersebut sangat jomplang dan memukul ekonomi keluarganya.
Anjloknya Pendapatan: Dari Rp500 Ribu ke Titik Nyari Rp100 Ribu Susah
“Dulu sebelum (tambang) ditutup, sehari bisa dapat Rp500 ribu lebih. Sekarang? Boro-boro Rp500 ribu, mau cari Rp100 ribu saja susah sekali sekarang. Buat makan sehari-hari saja sudah berat,” tambahnya.
Kondisi ekonomi yang sulit ini tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, namun juga merembet ke urusan rumah tangga. Ia mengaku banyak rekan sesama sopir yang kini terjerat masalah finansial, mulai dari kebutuhan pokok keluarga hingga urusan cicilan yang terbengkalai.
Terhimpit Cicilan dan Melambungnya Harga Kebutuhan
“Dampaknya ke keluarga banyak, apalagi yang punya angsuran (cicilan). Bingung mau bayar pakai apa kalau nggak jalan,” tuturnya.
Melalui momen aksi AMCRP ini, ia berharap pemerintah, khususnya Pj. Bupati Bogor, dapat memberikan solusi konkret bagi nasib para pekerja kecil di sektor tambang. Harapannya sederhana: ia ingin tambang kembali dibuka secara legal agar aktivitas ekonomi warga kembali normal.
Menanti Ketegasan dan Solusi Konkret dari Gubernur Jabar
“Harapan saya cuma satu, tambang dibuka lagi. Normal seperti biasanya. Meskipun mau diperketat, yang penting legal dibuka, biar kami bisa kerja lagi,” pungkasnya.
Aksi demo AMCRP sendiri menuntut pemerintah daerah untuk segera menyelesaikan karut-marut infrastruktur dan regulasi jam operasional truk tambang di wilayah Parung Panjang dan sekitarnya yang hingga kini masih menjadi persoalan pelik bagi warga maupun pelaku usaha.***











