PenaKu.ID – Sejarah pemuda Kota Sukabumi Jawa Barat hari ini, Senin (20/4/2026), terjebak dalam sebuah ruang yang sama namun di waktu yang berbeda, atau mungkin sebaliknya. Di saat Gedung Islamic Center sedang sibuk “melahirkan” pemimpin baru, di sudut lain kota, jalanan justru sedang sibuk “menggugurkan” legitimasi dari pemimpin yang lahir tersebut.
Dalam sebuah perhelatan yang disebut sebagai Musyawarah Daerah (Musda) XVI, nama Sudar Fauzi muncul ke permukaan sebagai Ketua KNPI Kota Sukabumi terpilih. Ia lahir dari rahim proses yang oleh petahana sebelumnya, Nuril Zaman Hadi atau sapaan akrab H. Aun, disebut sebagai transisi yang lancar, meski kelancaran itu berjalan di atas aspal yang sedang memanas karena aksi unjuk rasa kubu Tantan Sutandi di luar sana.
H. Aun, dalam sebuah pernyataan yang melingkar, menegaskan pentingnya menjaga soliditas di tengah perpecahan. Ia memastikan bahwa pasca-Musda KNPI Kota Sukabumi akan ada formatur, sebuah susunan yang dirancang agar KNPI terarah, walau arah yang dimaksud tampaknya sedang terbagi menjadi dua kompas yang berbeda.
“Alhamdulillah Musda lancar. Perbedaan itu biasa, yang penting tetap silaturahmi di rumah bersama,” ujar H. Aun. Namun, publik bertanya-tanya rumah mana yang dimaksud jika kuncinya sedang diperebutkan di jalanan oleh kubu Tantan?
Harmonisasi KNPI Kota Sukabumi di Atas Dualisme
Di atas podium yang sah menurut versinya, Sudar Fauzi membawa konsep “Harmoni” sebuah akronim yang sangat panjang hingga mungkin pesertanya lupa di mana letak ketidakharmonisannya. Ia bicara tentang inklusivitas di saat eksklusivitas sedang terjadi di gerbang gedung karena adanya barisan massa yang tidak diundang.
Sudar mengusung “Tri Harmoni”, sebuah konsep yang menitikberatkan pada penyatuan OKP, di saat OKP-OKP tersebut mungkin sedang bingung harus mengirim utusan ke meja sidang Musda atau ke barisan orator aksi massa Tantan Sutandi yang menuntut hak yang sama.
“Musuh kita bukan perbedaan, tapi sikap malas,” tegas Sudar. Sebuah pernyataan yang cukup membingungkan bagi mereka yang sedang rajin berteriak di bawah terik matahari memprotes jalannya Musda tersebut. Ia mengajak semua pihak untuk “ngopi bersama”, sebuah ajakan yang puitis namun menjadi pertanyaan siapa yang akan membayar kopinya jika anggarannya sendiri sedang diperdebatkan di Dispora?
Hari ini, KNPI Kota Sukabumi berhasil menjadi organisasi yang sangat produktif; satu organisasi mampu menghasilkan dua pemimpin, dua massa, dan satu kebingungan kolektif bagi masyarakat yang melihatnya. Musda KNPI Kota Sukabumi telah usai dengan kemenangan satu pihak, namun unjuk rasa baru saja dimulai dengan kemenangan pihak lainnya dalam hal perhatian publik.
Apakah KNPI akan semakin solid seperti harapan Sudar? Ataukah soliditas itu hanyalah sebuah kata benda yang diartikan berbeda oleh dua kubu yang merasa paling benar di rumah yang sama? Jawabannya mungkin ada pada kopi yang belum sempat diseduh itu.**









