PenaKu.ID – Dunia perkeretaapian tanah air tengah berduka menyusul insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam WIB.
Kejadian ini tidak hanya berdampak pada gangguan operasional lintas Bekasi, namun juga dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Di balik musibah ini, Argo Bromo Anggrek tetap memegang predikat sebagai layanan premium kebanggaan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Sejarah Panjang Argo Bromo Anggrek
Eksistensi kereta api ini memiliki akar sejarah yang kuat. Diresmikan pertama kali oleh Presiden Soeharto pada 31 Juli 1995, layanan ini awalnya bernama JS950 Argo Bromo, yang merujuk pada durasi perjalanan 9 jam untuk rute Jakarta-Surabaya dalam rangka peringatan 50 tahun kemerdekaan RI.
Evolusi berlanjut pada 24 September 1997 dengan peluncuran varian “Anggrek” yang mengadopsi teknologi bogie K9 hasil kolaborasi dengan Alstom.
Teknologi suspensi udara ini memungkinkan kereta melesat hingga 120 km/jam dengan guncangan minim, menjadikannya standar baru kenyamanan transportasi darat kala itu.
Fasilitas Mewah Argo Bromo Anggrek
Sebagai kereta dengan kasta tertinggi (nomor perjalanan 1-4 dalam Gapeka), Argo Anggrek menawarkan kemewahan yang sulit ditandingi.
Dengan waktu tempuh hanya sekitar 8 jam 10 menit untuk jarak 720 km, penumpang dapat memilih kelas Eksekutif dengan kapasitas 50 kursi atau kelas Luxury yang lebih privat dengan 18 kursi sleeper.
Fasilitas seperti kursi yang bisa direbahkan 180 derajat pada kelas Luxury hingga stasiun pemberhentian di kota-kota besar seperti Cirebon, Semarang, dan Bojonegoro, menjadikannya pilihan utama para pebisnis maupun wisatawan. Meski tarifnya berkisar antara Rp400.000 hingga Rp700.000, tingkat keterisiannya tetap tinggi sebagai urat nadi ekonomi jalur utara Jawa.
Tragedi yang terjadi pada 27 April tersebut tentu menjadi catatan evaluasi penting, mengingat posisi strategis KA Argo Bromo Anggrek sebagai simbol kecepatan dan keselamatan transportasi rel Indonesia.**
