Peristiwa

Tangis PMI Asal Cianjur di Libya, Keluarga Minta Pertolongan

Tangis PMI Asal Cianjur di Libya, Keluarga Minta Pertolongan
Tangis PMI Asal Cianjur di Libya, Keluarga Minta Pertolongan. /Ilustrasi (foto: istimewa)

PenaKu.ID – Seorang PMI asal Cianjur Jawa Barat, warga asal Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, diduga mengalami penyiksaan saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Libya. Korban bernama Ai Juariah (43) dikabarkan bekerja tanpa waktu istirahat yang layak dan meminta bantuan kepada pemerintah agar dapat segera dipulangkan ke Indonesia.

Berdasarkan keterangan keluarga, Ai Juariah, PMI asal Cianjur tersebut berangkat ke luar negeri pada 7 Maret 2025. Sebelum keberangkatan, ia ditawari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Turki. Namun, setelah tiba di luar negeri, PMI asal Cianjur tersebut justru ditempatkan bekerja di Libya.

Selama bekerja di negara tersebut, Ai Juariah disebut harus melayani tiga rumah milik majikannya. Kondisi itu membuatnya hampir tidak memiliki waktu istirahat karena bekerja hampir selama 24 jam setiap hari.

Suami korban, Ujang Suryana (41), mengatakan istrinya telah beberapa kali mengeluhkan kondisi kerja yang sangat berat. Menurutnya, kelelahan membuat Ai Juariah sering terjatuh hingga beberapa kali tidak sadarkan diri.

“Istri saya bekerja di tiga rumah milik majikannya sehingga hampir tidak pernah memiliki waktu untuk beristirahat. Karena kelelahan, ia sering jatuh dan sempat tidak sadarkan diri,” ujar Ujang kepada awak media, Jumat (26/6/26).

Ujang menjelaskan, sekitar tujuh bulan lalu istrinya telah meminta agar dipulangkan melalui pihak agen dan sponsor yang memberangkatkannya, yakni seorang pria yang akrab disapa Kang Ade, warga Kecamatan Ciranjang. Awalnya permintaan tersebut disanggupi, namun beberapa hari kemudian sponsor tersebut sulit dihubungi hingga akhirnya tidak dapat dihubungi sama sekali.

PMI Asal Cianjur Mengirim Sebuah Video

Menurut Ujang, dua hari lalu dirinya menerima sebuah video dari sang istri. Dalam video tersebut, Ai Juariah tampak menangis sambil menyeka darah yang ke luar dari bagian keningnya. Luka tersebut diduga akibat terjatuh dan terkena pecahan kaca.

“Dua hari lalu istri saya mengirim video sambil menangis dan menyeka darah yang keluar dari keningnya. Dalam video itu, ia meminta tolong kepada Bapak Presiden dan Bapak Gubernur Jawa Barat agar segera dipulangkan,” kata Ujang.

Ujang juga mengaku tidak memiliki dokumen apa pun terkait proses keberangkatan istrinya sebagai PMI. Ia hanya pernah diminta menandatangani surat persetujuan sebagai suami dan tidak menerima salinan dokumen tersebut.

“Saya tidak memiliki dokumen apa pun mengenai keberangkatan istri saya. Saya hanya pernah menandatangani surat izin suami, tetapi tidak mendapatkan salinannya. Saya berharap pihak perusahaan dapat segera memulangkan istri saya,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Ciranjang, Hendri Prasetiyadi, mengatakan pihaknya mengetahui informasi tersebut dari media sosial. Setelah melakukan penelusuran, ia bersama Kepala Desa Karangwangi, Nana Suryadana, mendatangi rumah keluarga korban untuk memastikan informasi tersebut.

Setelah memperoleh keterangan dari keluarga, Hendri menyatakan akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait di Kabupaten Cianjur untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Selain itu, pihaknya juga akan menelusuri keberadaan sponsor yang memberangkatkan PMI Asal Cianjur tersebut.

“Kami bersama Kepala Desa Karangwangi akan terus berkoordinasi dengan dinas terkait di Kabupaten Cianjur. Kami juga akan meminta pertanggungjawaban pihak sponsor maupun perusahaan agar Ai Juariah dapat segera dipulangkan ke Indonesia,” pungkas Hendri.**

Exit mobile version