Ekonomi

Saham BCA Masih Tangguh di Tengah Tekanan Pasar

Saham BCA Masih Tangguh di Tengah Tekanan Pasar
Saham BCA Masih Tangguh di Tengah Tekanan Pasar. /Ilustrasi (pixabay)

PenaKu.ID – Saham BCA atau PT Bank Central Asia Tbk masih mampu menunjukkan daya tahan di tengah dinamika pasar keuangan dan tekanan sentimen global. Hingga akhir Februari 2026, pergerakan saham BCA yang notabene bank swasta terbesar di Indonesia tersebut cenderung stabil, meski belum kembali menyentuh level tertinggi dalam setahun terakhir.

Mengacu pada data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BCA bergerak di rentang Rp7.200 hingga Rp7.300 per lembar. Secara tahunan, harga saham BCA masih berada di bawah puncak sebelumnya, sejalan dengan penyesuaian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga serta kondisi ekonomi global. Kendati demikian, kapitalisasi pasar BCA tetap menjadi yang terbesar di sektor perbankan nasional.

Dari sisi fundamental, kinerja keuangan BCA dinilai tetap solid. Pada awal 2026, perseroan mencatat pertumbuhan laba yang stabil, ditopang oleh kualitas aset yang terjaga serta biaya kredit yang relatif rendah. Kondisi likuiditas juga berada pada level sehat, tercermin dari rasio penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga yang masih tergolong konservatif.

Faktor Kekuatan Saham BCA

Sejumlah analis menilai kekuatan utama BCA terletak pada struktur pendanaan yang didominasi dana murah, jaringan transaksi yang luas, serta basis nasabah ritel yang kuat. Kombinasi tersebut membuat BCA relatif lebih defensif dibandingkan emiten perbankan lainnya, terutama di tengah ketidakpastian pasar keuangan.

Sentimen positif turut datang dari rencana aksi korporasi perseroan. Manajemen BCA telah mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai maksimal mencapai triliunan rupiah. Langkah ini dipandang sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan, sekaligus upaya menjaga kepercayaan investor dalam jangka panjang.

Di sisi lain, data kepemilikan saham menunjukkan adanya pergeseran komposisi investor. Sejumlah investor asing tercatat mengurangi porsi kepemilikan, sementara investor domestik mulai meningkatkan akumulasi. Perubahan tersebut turut memengaruhi pergerakan saham BBCA dalam jangka pendek.

Ke depan, pelaku pasar masih mencermati berbagai faktor risiko, mulai dari potensi perlambatan ekonomi, arah kebijakan suku bunga, hingga dinamika pasar keuangan global. Meski demikian, mayoritas analis tetap memandang prospek jangka panjang BCA positif, sejalan dengan fundamental yang kuat dan posisi dominan perseroan di industri perbankan nasional.

Dengan kinerja keuangan yang stabil, manajemen risiko yang disiplin, serta strategi bisnis yang konsisten, saham BBCA masih dipandang sebagai salah satu aset unggulan di pasar modal Indonesia, khususnya bagi investor dengan orientasi jangka panjang.** (tds)

Exit mobile version