PenaKu.ID – Perayaan Mother’s Day atau Hari Ibu kembali diperingati di berbagai belahan dunia pada Minggu (10/5/2026). Sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, hingga Jepang menjadikan momentum tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap peran ibu dalam keluarga maupun kehidupan sosial.
Di tengah maraknya promosi bunga, cokelat, dan berbagai hadiah mewah, tren perayaan Hari Ibu tahun ini justru menunjukkan perubahan. Banyak keluarga kini lebih memilih menghadirkan kedekatan emosional dan kebersamaan dibanding sekadar memberi barang bernilai tinggi.
Sejumlah laporan lembaga riset konsumen internasional mencatat masyarakat global mulai mengutamakan quality time bersama keluarga sebagai bentuk apresiasi kepada ibu. Aktivitas sederhana seperti makan malam bersama, perjalanan singkat, hingga surat tulisan tangan dinilai semakin diminati dibanding hadiah yang bersifat konsumtif.
Fenomena tersebut dianggap sejalan dengan semangat awal lahirnya Hari Ibu modern yang berangkat dari penghormatan tulus kepada sosok ibu.
Mother’s Day modern pertama kali dipopulerkan di Amerika Serikat oleh Anna Jarvis pada awal abad ke-20. Ia memperjuangkan adanya hari khusus untuk mengenang jasa ibunya, Ann Reeves Jarvis, yang dikenal aktif membantu komunitas perempuan dan keluarga.
Perjuangan tersebut membuahkan hasil ketika Presiden Woodrow Wilson menetapkan Mother’s Day sebagai perayaan nasional pada 1914.
Kritik Muncul terhadap Mother’s Day
Namun, seiring waktu, Anna Jarvis justru menjadi sosok yang lantang mengkritik komersialisasi Hari Ibu. Ia menilai makna penghormatan terhadap ibu perlahan bergeser menjadi kepentingan bisnis semata.
Lebih dari satu abad kemudian, kekhawatiran tersebut dinilai masih relevan. Mother’s Day kini menjadi salah satu momentum ekonomi terbesar setiap tahun, terutama di negara-negara Barat. Federasi Ritel Nasional Amerika Serikat bahkan memperkirakan pengeluaran masyarakat untuk Mother’s Day 2026 menembus rekor baru hingga puluhan miliar dolar AS.
Meski demikian, berbagai organisasi internasional mengingatkan bahwa Mother’s Day tidak semata berbicara soal konsumsi atau hadiah mahal. Momentum ini juga dimanfaatkan untuk menyoroti berbagai isu perempuan dan keluarga, mulai dari kesehatan ibu, kesejahteraan perempuan, hingga pentingnya penghargaan terhadap kerja pengasuhan yang selama ini kerap dianggap tidak terlihat.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan dominasi aktivitas digital, Mother’s Day kembali menjadi pengingat tentang pentingnya perhatian sederhana dan kehadiran keluarga.
Pada akhirnya, perayaan ini bukan hanya soal bunga atau hadiah, melainkan bentuk penghargaan terhadap kasih sayang, pengorbanan, dan peran ibu yang tak tergantikan dalam kehidupan manusia.**





