Internasional

Ketegangan Memuncak: Gencatan Senjata Gagal Redam Serangan Udara di Lebanon

Ketegangan Memuncak: Gencatan Senjata Gagal Redam Serangan Udara di Lebanon
Ketegangan Memuncak: Gencatan Senjata Gagal Redam Serangan Udara di Lebanon/pixabay

PenaKu.ID – Konflik antara militer Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah di wilayah selatan Lebanon memasuki babak baru yang memilukan. Meski sempat ada harapan melalui upaya gencatan senjata, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.

Pada Selasa, 12 Mei 2026, serangan udara dilaporkan kembali merenggut sedikitnya 13 nyawa, membuktikan bahwa stabilitas di wilayah perbatasan masih menjadi angan-angan yang sulit digapai di tengah saling balas serangan yang terus meningkat.

Tragedi Kemanusiaan di Lebanon

Laporan dari Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon menyebutkan bahwa sebuah rumah di Kfar Dounine menjadi sasaran ledakan dahsyat semalam, menewaskan enam orang dan melukai tujuh lainnya.

Situasi kian memburuk saat serangan udara menyasar wilayah Nabatieh pada Selasa sore. Serangan ini secara tragis menewaskan dua paramedis dari Pertahanan Sipil Lebanon, Hussein Jaber dan Ahmad Noura, saat mereka sedang menjalankan misi kemanusiaan. Kementerian Kesehatan Lebanon menuding militer Israel sengaja menargetkan petugas medis, yang merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.

Eskalasi Drone dan Respons Pemerintah Lebanon

Di lokasi lain, sebuah serangan pesawat tak berawak (drone) di area Tayr Debba menyasar sebuah sepeda motor, menewaskan seorang pria Suriah dan melukai istrinya. Pihak Israel berdalih serangan tersebut menargetkan tersangka yang mencoba meluncurkan rudal permukaan-ke-udara.

Menanggapi rangkaian peristiwa ini, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan duka mendalam dan menegaskan bahwa agresi yang terus berlanjut hanya akan menghambat segala upaya pemulihan ketenangan di kawasan tersebut.**

Exit mobile version