PenaKu.ID – Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan provokatif terkait nasib gencatan senjata dengan Iran.
Pada Senin, 11 Mei 2026, di Ruang Oval, Trump secara blak-blakan menyebut kesepakatan damai yang baru berjalan satu bulan itu kini berada dalam kondisi “bantuan hidup yang masif” alias hampir mati.
Trump tak ragu menyebut posisi gencatan senjata tersebut sangat lemah dan tidak memberikan keuntungan berarti bagi pihak Amerika. Ketegangan memuncak setelah Trump secara resmi menolak proposal balasan dari Iran yang dikirimkan pada hari Minggu. Mantan pengusaha ini bahkan melabeli dokumen tersebut sebagai “sampah” dan “sama sekali tidak dapat diterima.”
Respons Keras Militer Iran pada Donald Trump
Pihak Teheran tidak tinggal diam menghadapi retorika tajam Washington. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, melalui unggahannya di media sosial memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran siap memberikan “pelajaran” bagi setiap agresi.
Iran bersikeras bahwa perdamaian hanya bisa terjadi jika hak-hak rakyat Iran dipenuhi sesuai dengan 14 poin proposal yang telah mereka ajukan kepada pihak Gedung Putih.
Tuntutan Kompensasi dan Kedaulatan Donald Trump
Dalam proposal yang disebut Trump sebagai sampah tersebut, Iran menuntut penghentian segera perang di semua lini, termasuk serangan Israel di Lebanon.
Selain itu, Iran meminta AS mencabut blokade angkatan laut di pelabuhan mereka serta menuntut kompensasi atas kerusakan perang yang terjadi. Fokus utama Iran tetap pada kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak vital yang kini menjadi titik api perselisihan antara kedua negara.**
