Pemerintahan

Keswandu Diluncurkan, PMI dan Posyandu Kota Bandung Perkuat Layanan

Keswandu Diluncurkan, PMI dan Posyandu Kota Bandung Perkuat Layanan
Keswandu Diluncurkan, PMI dan Posyandu Kota Bandung Perkuat Layanan

PenaKu.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung Jawa Barat mendorong penguatan kerja sama antara Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung dan Tim Pembina Posyandu Kota Bandung melalui peluncuran Kesatuan Relawan Posyandu (Keswandu).

Peluncuran tersebut berlangsung bersamaan dengan penandatanganan kerja sama antara PMI Kota Bandung dan Tim Pembina Posyandu Kota Bandung di Pendopo Kota Bandung, Kamis, 17 September 2026.

Keswandu diarahkan untuk memperkuat kapasitas relawan dan kader Posyandu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama pada bidang kesehatan, sosial, serta penanganan kondisi kedaruratan.

Farhan: Masyarakat Tangguh Bencana Harus Sigap

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, kolaborasi PMI dan Posyandu merupakan salah satu langkah nyata untuk membangun masyarakat yang tangguh dalam menghadapi bencana.

Menurut Farhan, ketangguhan masyarakat tidak hanya terlihat ketika menghadapi bencana berskala besar, seperti gempa bumi, banjir, atau longsor. Kemampuan merespons berbagai gangguan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi bagian penting dari ketangguhan tersebut.

Ia mencontohkan kecelakaan lalu lintas dan kebakaran sebagai situasi yang membutuhkan respons cepat dan koordinasi berbagai pihak.

“Ketahanan sebuah masyarakat terhadap bencana itu justru dilihat bagaimana respons kita terhadap berbagai macam gangguan rutinitas kehidupan sehari-hari. Bahkan kecelakaan lalu lintas pun bisa dikategorikan sebagai sebuah bencana,” kata Farhan di Pendopo Kota Bandung, Kamis 17 September 2026.

Farhan menjelaskan, dalam kecelakaan lalu lintas yang melibatkan banyak orang, penanganan tidak dapat dilakukan oleh satu unsur saja. Kepolisian, TNI, relawan, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak lainnya perlu berkoordinasi agar kondisi darurat dapat ditangani dengan cepat.

Ia menyebut sistem respons kedaruratan di Kota Bandung saat ini dapat memberikan respons dalam waktu kurang dari 15 menit. Dalam sejumlah kondisi, waktu respons tersebut bahkan disebut telah mencapai sekitar delapan menit.

“Artinya kemampuan kita untuk menjadi masyarakat yang tangguh bencana sudah baik. Kita tinggal berharap kepada Tuhan Yang Maha Esa jangan sampai terjadi bencana besar di Kota Bandung. Namun bukan berarti kita tidak waspada,” ujarnya.

Keswandu Diharapkan Hasilkan Program Nyata

Farhan menilai Keswandu memiliki peran penting karena menyatukan kekuatan PMI dan Posyandu yang sama-sama mempunyai jejaring relawan dan kader hingga tingkat kewilayahan.

Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti sebatas seremoni peluncuran dan penandatanganan dokumen, tetapi berlanjut dalam bentuk program yang konkret serta dapat diukur.

Khusus bagi Posyandu, Farhan meminta agar pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang dimiliki PMI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan kader, terutama dalam penanganan kesehatan.

“Khusus untuk Posyandu, saya minta agar betul-betul fokus belajar memanfaatkan keilmuan dan keahlian serta pengalaman Palang Merah Indonesia dalam memberikan transfer pengetahuan dan keahlian tentang penanganan kesehatan,” ucapnya.

Menurut Farhan, PMI mempunyai pengalaman dan kapasitas dalam bidang kemanusiaan, sedangkan Posyandu memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat. Pertemuan kedua kekuatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pelayanan kepada warga mulai dari tingkat kota hingga lingkungan masyarakat.

Farhan juga menekankan posisi Posyandu dalam mendukung pemenuhan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), yang mencakup kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum, serta sosial.

Salah satu persoalan yang turut menjadi perhatian ialah sanitasi lingkungan. Farhan menyebut persoalan sanitasi tidak hanya berkaitan dengan aspek kebersihan, tetapi juga menyangkut perubahan perilaku, infrastruktur, sistem permukiman, dan kondisi sosial masyarakat.

Karena itu, menurutnya, penyelesaian berbagai persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Tidak ada satu pun aktor termasuk wali kota, yang bisa melakukan segalanya. Saya bukan Superman. Kolaborasi ini yang menjadi kunci bagaimana Kota Bandung bisa mengatasi berbagai macam masalah,” ujarnya.

Keswandu Libatkan Relawan dan Kader di Tingkat Kewilayahan

Sekretaris TP Posyandu Kota Bandung Momon Ahmad Imron Sutisna mengatakan, PMI dan TP Posyandu sama-sama merupakan lembaga mitra pemerintah yang mempunyai jejaring relawan serta kader di tingkat kewilayahan.

Menurut Momon, terdapat kesamaan tugas antara relawan PMI dan kader Posyandu, khususnya dalam pelayanan kesehatan dan sosial. Atas dasar itu, sinergi kedua pihak diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Fokus pada Donor Darah dan Pertolongan Pertama

Momon menjelaskan, keterlibatan relawan PMI di Posyandu nantinya dapat mendukung sejumlah kebutuhan, antara lain penyediaan data pendonor darah bagi ibu hamil yang berisiko melahirkan serta perekrutan calon pendonor darah.

Selain itu, kerja sama tersebut mencakup sosialisasi perawatan keluarga dan peningkatan kemampuan kader Posyandu dalam memberikan pertolongan pertama.

“Kehadiran relawan PMI di Posyandu akan membantu Posyandu khususnya bidang kesehatan dan sosial di dalam penyediaan data pendonor darah untuk ibu hamil yang berisiko melahirkan, rekrutmen calon pendonor darah dan sosialisasi perawatan keluarga serta meningkatkan kemampuan kader Posyandu di dalam melakukan pertolongan pertama,” kata Momon.

Pelaksanaan Keswandu akan melibatkan sejumlah unsur di tingkat kewilayahan. Di antaranya kecamatan, kelurahan, puskesmas, petugas lapangan TPPKB, TP PKK, TP Posyandu, PMI kecamatan, ketua RW dan RT, serta kader Posyandu.

Relawan PMI yang terdiri atas Siaga, Korps Sukarela (KSR), Palang Merah Remaja (PMR), dan keluarga donor darah juga diharapkan mengambil bagian dalam program tersebut.

Karena Keswandu masih menjadi inovasi baru di Kota Bandung, Momon menyampaikan bahwa sosialisasi perlu dilakukan secara berkelanjutan dan berjenjang.

“Mudah-mudahan dengan kerja sama ini akan semakin mempercepat pemahaman semua pihak tentang Keswandu serta meningkatkan kemampuan teknis relawan PMI dan kader Posyandu di dalam mendukung kegiatan Keswandu di lapangan,” ujarnya.

PMI Perluas Pelayanan Kemanusiaan melalui Keswandu

Ketua PMI Kota Bandung Ade Koesjanto mengatakan, kerja sama tersebut tidak sekadar diwujudkan melalui penandatanganan dokumen. Menurutnya, kerja sama itu merupakan komitmen untuk memperluas jangkauan pelayanan kemanusiaan hingga ke tengah masyarakat.

Ade menilai Posyandu memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan keluarga dan masyarakat. Kondisi tersebut dinilai memungkinkan berbagai upaya pencegahan, edukasi, pendampingan, dan pelayanan kesehatan dilakukan sejak dari lingkungan terdekat.

“Posyandu memiliki posisi yang sangat strategis karena berada dekat dengan keluarga dan masyarakat. Di sanalah kita dapat melakukan upaya pencegahan, edukasi, pendampingan, dan pelayanan kesehatan masyarakat sejak dari lingkungan yang dekat,” kata Ade.

Ia mengatakan PMI ingin memperluas perannya sehingga tidak hanya hadir ketika bencana maupun keadaan darurat terjadi. Melalui Keswandu, PMI berharap dapat terlibat dalam upaya pencegahan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sebelum kondisi darurat muncul.

“Kami berharap Keswandu dapat menjadi bagian dari gerakan bersama untuk membangun masyarakat Kota Bandung yang lebih sehat, lebih tangguh, dan lebih peduli,” ujarnya.

Keswandu Diharapkan Berlanjut hingga Tingkat Keluarga

Ade menegaskan, keberhasilan Keswandu membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, PMI, kader Posyandu, relawan, dan masyarakat perlu bergerak bersama agar pelayanan kesehatan serta kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat secara lebih cepat dan luas.

“Setelah launching, harus ada program yang nyata, kader yang semakin kuat, pelayanan yang semakin dekat dan masyarakat yang semakin merasakan manfaatnya,” katanya.

Ade berharap Keswandu menjadi titik awal kolaborasi kemanusiaan yang berkelanjutan, mulai dari tingkat kota, kecamatan, kelurahan, RW, hingga keluarga.

“Setetes darah, sejuta harapan bagi sesama. Satu langkah kepedulian, sejuta manfaat untuk masyarakat,” tutur Ade.**

Exit mobile version