Peristiwa

Kemarau Lumpuhkan Sawah Petani di Ciranjang Cianjur

×

Kemarau Lumpuhkan Sawah Petani di Ciranjang Cianjur

Sebarkan artikel ini
Kemarau Lumpuhkan Sawah Petani di Ciranjang Cianjur
Kemarau Lumpuhkan Sawah Petani di Ciranjang Cianjur

PenaKu.ID – Sejumlah petani di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengeluhkan gagal panen akibat tanaman padi mengalami kekeringan. Kondisi tersebut dialami para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sukamulya, Desa Sindangsari.

Gagal panen terjadi akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Selain itu, pasokan air dari saluran irigasi teknis tidak mampu menjangkau wilayah hilir karena habis dimanfaatkan oleh petani di daerah hulu. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyelamatkan tanaman padi, termasuk memanfaatkan air dari sumur artesis. Namun, debit air yang tersedia tidak mampu memenuhi kebutuhan lahan sehingga tanaman padi tetap mengering dan mati.

Ketua Kelompok Tani Sukamulya Desa Sindangsari, Idan Didan (40), mengatakan kelompoknya beranggotakan 42 petani yang menggarap lahan sawah seluas 20 hektare. Seluruh areal persawahan tersebut terdampak kekeringan.

Ia menjelaskan, dari total lahan tersebut, sekitar 10 hektare masih dapat dipanen secara normal meski hasilnya tidak maksimal. Sementara itu, sekitar 5 hektare hanya dapat dipanen sebagian, sedangkan 5 hektare lainnya mengalami gagal panen total karena tanaman padi mengering dan tidak menghasilkan bulir.

“Berdasarkan laporan dari anggota, sekitar 10 hektare masih bisa dipanen secara normal meski hasilnya kurang maksimal. Seluas 5 hektare hanya bisa dipanen sebagian, sedangkan 5 hektare lainnya sama sekali tidak bisa dipanen akibat tanaman padi kering dan mati,” ujar Idan, Jumat (17/7/26).

Nilai Kerugian Para Petani di Ciranjang Cianjur

Menurutnya, berdasarkan hasil perhitungan kelompok tani, kerugian akibat gagal panen diperkirakan mencapai sekitar Rp105 juta.

Selain di Kelompok Tani Sukamulya, kata Idan, lahan persawahan yang mengalami kekeringan juga terdapat di kelompok tani yang berada di Kampung Cikirenjo, Desa Sindangsari. Namun, luas lahan yang terdampak di wilayah tersebut belum diketahui secara pasti.

“Kerugian di Kelompok Tani Sukamulya diperkirakan mencapai sekitar Rp105 juta. Selain itu, ada juga lahan sawah milik kelompok tani di Kampung Cikirenjo, Desa Sindangsari, yang tanaman padinya mati akibat kekeringan, meski kami belum mengetahui luas lahan yang terdampak,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait upaya penanganan, Idan menyebut Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) rutin melakukan pemantauan sejak awal musim kemarau. Namun, keterbatasan pasokan air menjadi kendala utama dalam menyelamatkan tanaman padi.

Menurutnya, aliran air dari jaringan irigasi tidak mampu menjangkau wilayah Desa Sindangsari. Di sisi lain, pasokan air dari sumur artesis juga tidak mencukupi untuk mengairi seluruh areal persawahan selama musim kemarau berlangsung.

“PPL sering datang untuk memantau kondisi tanaman padi. Namun, karena faktor keterbatasan air, upaya penanganan sulit dilakukan. Air dari saluran irigasi tidak sampai ke wilayah Desa Sindangsari, sedangkan air dari sumur artesis juga tidak cukup untuk mengairi seluruh lahan sawah,” pungkasnya.**