PenaKu.ID – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dilaporkan meluncurkan rudal Sejjil ke arah wilayah Israel pada pertengahan Maret 2026. Serangan rudal balistik jarak menengah tersebut disebut sebagai salah satu eskalasi paling signifikan sejak konflik kedua negara kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa rudal Sejjil itu diluncurkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Peluncuran rudal Sejjil tersebut merupakan bagian dari operasi militer yang dinamakan True Promise-4.
Serangan ini disebut menjadi salah satu dari puluhan gelombang serangan yang dilancarkan Iran sejak ketegangan dengan Israel meningkat pada akhir Februari 2026.
Beberapa sumber melaporkan bahwa pecahan rudal Sejjil jatuh di wilayah sekitar Tel Aviv. Bahkan, serpihan tersebut dilaporkan mengenai bangunan tempat tinggal yang digunakan oleh konsulat Amerika Serikat.
Hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait jumlah korban dalam insiden tersebut. Otoritas Israel masih melakukan penilaian terhadap tingkat kerusakan di sejumlah lokasi yang terdampak.
Rudal Sejjil adalah Rudal Balistik Jarak Menengah
Sejjil dikenal sebagai salah satu rudal balistik paling canggih dalam arsenal militer Iran. Rudal ini menggunakan sistem dua tahap peluncuran dengan bahan bakar padat.
Teknologi bahan bakar padat memungkinkan proses peluncuran berlangsung lebih cepat dibandingkan rudal yang menggunakan bahan bakar cair.
Rudal Sejjil memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer, yang membuatnya mampu menjangkau sebagian besar wilayah Timur Tengah, termasuk Israel, apabila diluncurkan dari wilayah Iran.
Selain itu, sistem senjata tersebut dirancang untuk membawa hulu ledak dengan bobot mencapai ratusan kilogram.
Sejumlah analis pertahanan juga menilai bahwa rudal ini memiliki kemampuan manuver pada fase penerbangannya. Kemampuan tersebut berpotensi menyulitkan sistem pertahanan udara lawan dalam melakukan pencegatan.
Konflik yang Terus Memanas
Eskalasi terbaru ini bermula dari operasi militer yang dilancarkan Israel bersama Amerika Serikat terhadap sejumlah target di Iran pada akhir Februari 2026.
Operasi yang dikenal sebagai Operation Lion’s Roar itu menargetkan berbagai fasilitas militer serta infrastruktur strategis milik Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangkaian serangan menggunakan drone dan rudal ke wilayah Israel.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa sejak konflik kembali meningkat, Iran telah menembakkan ratusan rudal dan drone yang diarahkan ke berbagai target di wilayah Israel.
Di sisi lain, militer Israel juga terus melancarkan serangan udara ke sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan fasilitas militer dan program persenjataan Iran.
Peluncuran Rudal Sejjil Dinilai Pertanda Meningkatnya Konfrontasi
Meningkatnya intensitas konfrontasi antara kedua negara memicu kekhawatiran di tingkat internasional. Sejumlah negara serta organisasi global menyerukan langkah de-eskalasi guna mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Para pengamat menilai penggunaan rudal balistik jarak menengah seperti Sejjil menandakan meningkatnya tingkat konfrontasi militer antara Iran dan Israel.
Jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi, situasi ini dikhawatirkan dapat memperburuk stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
Namun hingga kini, perkembangan situasi masih terus dipantau karena kedua pihak belum menunjukkan tanda-tanda akan menurunkan intensitas operasi militer mereka.** (tds)
