PenaKu.ID – Eskalasi militer di wilayah Teluk mencapai level yang mengkhawatirkan pada Minggu, 15 Maret 2026. Pangkalan Udara Prince Sultan (PSAB) di Al-Kharj, Arab Saudi, dilaporkan mendapat serangan bertubi-tubi dari militer Iran.
Mengingat pangkalan tersebut merupakan titik krusial bagi operasi pesawat tempur Amerika Serikat, serangan ini dianggap sebagai tantangan langsung terhadap supremasi militer Barat di kawasan tersebut.
Hujan Drone Iran di Al-Kharj dan Respons Pertahanan Saudi
Berdasarkan laporan resmi, Kementerian Pertahanan Arab Saudi berhasil menjatuhkan sekitar 10 unit pesawat nirawak (drone) yang mencoba menembus zona udara Riyadh dan Provinsi Timur.
Namun, intensitas serangan rudal yang diklaim oleh kantor berita Fars menunjukkan bahwa Iran mengerahkan kekuatan penuh dalam operasi kali ini. Langkah ini dilakukan di tengah ketegangan yang semakin memanas antara Teheran dan Washington yang tidak kunjung menemui titik temu diplomasi.
Eskalasi Israel dan Dilema Kelangsungan Hidup Iran
Menanggapi tindakan Iran, militer Israel segera meluncurkan serangan udara masif ke wilayah Iran bagian barat. Warga Teheran mulai menyuarakan kekhawatiran akan kehancuran total negara mereka jika ritme perang ini terus berlanjut.
Sementara itu, api dilaporkan berkobar di pinggiran Tel Aviv akibat dampak serangan balasan Iran. Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan damai masih jauh dari kata sepakat karena syarat yang diajukan Iran dinilai tidak menguntungkan. Secara teknis, Iran memang sulit menandingi kekuatan militer AS, namun strategi mereka saat ini murni difokuskan pada ketahanan nasional menghadapi tekanan hebat dari berbagai lini udara.**
