Ekonomi

Harga Emas Anjlok, Apa Penyebabnya?

Harga Emas Anjlok, Apa Penyebabnya?
Harga Emas Anjlok, Apa Penyebabnya? /Ilustrasi (pexels)

PenaKu.ID – Harga emas global maupun domestik tercatat mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta dinamika ekonomi global yang menekan daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.

Berdasarkan data perdagangan terbaru yang dihimpun dari berbagai sumber, harga emas dunia sempat merosot ke kisaran USD 4.838 per troy ons pada pertengahan Maret 2026. Angka tersebut menunjukkan penurunan lebih dari 3% hanya dalam satu hari perdagangan.

Koreksi harga juga terjadi di pasar domestik. Emas batangan produksi Antam dilaporkan turun hingga sekitar Rp2,98 juta per gram, bahkan sempat berada di bawah level Rp3 juta per gram dalam beberapa hari terakhir.

Pelemahan Harga Emas Terjadi Bertahap

Tekanan terhadap harga emas sebenarnya sudah mulai terlihat sejak awal Maret 2026. Pada 9 Maret, harga emas global tercatat turun sekitar 1,7% ke posisi USD 5.083 per troy ons, setelah sebelumnya sempat menguat pada akhir pekan.

Di dalam negeri, pergerakan serupa juga terjadi. Harga emas Antam sempat terkoreksi hingga Rp55.000 per gram dalam satu hari perdagangan, mengikuti tren penurunan di pasar global.

Secara mingguan, tren pelemahan ini telah berlangsung selama dua pekan berturut-turut, mencerminkan tekanan yang konsisten terhadap harga emas.

Faktor Pemicu Penurunan Harga Emas

Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab utama turunnya harga emas, baik dari sisi global maupun domestik.

Penguatan dolar AS menjadi faktor dominan. Ketika mata uang Negeri Paman Sam menguat, harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan cenderung menurun.

Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi, terutama oleh bank sentral AS (The Fed), turut memengaruhi pergerakan emas. Instrumen investasi berbunga seperti obligasi dan deposito menjadi lebih menarik, sehingga minat terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil ikut tertekan.

Dari sisi geopolitik, perubahan sentimen global juga berperan. Meredanya ketegangan di sejumlah kawasan membuat kebutuhan terhadap aset safe haven seperti emas berkurang.

Di sisi lain, ekspektasi inflasi dan arah kebijakan moneter turut membayangi pasar. Kenaikan harga energi serta potensi suku bunga tinggi dalam jangka lebih lama meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) bagi investor untuk menyimpan emas.

Masih Berpotensi Berfluktuasi

Meski sedang dalam tren pelemahan, analis menilai pergerakan harga emas masih sangat dinamis. Faktor-faktor global seperti kebijakan moneter AS, inflasi, hingga perkembangan geopolitik akan tetap menjadi penentu utama arah harga.

Secara teknikal, level USD 5.000 per troy ons menjadi area penting. Jika harga menembus di bawah level tersebut, tekanan jual berpotensi semakin besar. Namun, area ini juga berpeluang menjadi titik penahan apabila minat beli kembali meningkat.

Penurunan harga saat ini dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor, mulai dari penguatan dolar AS, suku bunga tinggi, hingga perubahan sentimen global.

Dalam jangka pendek, volatilitas harga diperkirakan masih tinggi. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan pasar secara cermat sebelum mengambil keputusan investasi.** (tds)

Exit mobile version