oleh

“Getahpalu” Terapkan Pengembangan Pertanian Cerdas Berbasis IoT

PenaKu.ID – Masalah pertanian sebagai fundamental kuat atau lemahnya ketahanan pangan sebuah negara, saat ini sudah menggugah kesadaran sebagian masyarakat pegiat ketahanan pangan.

Berbagai terobosan ide sudah dikombinasikan dengan perkembangan teknologi pertanian mutakhir, juga dilengkapi keseimbangan sosial budaya dalam bingkai kearifan lokal.

Sesuatu yang menarik mempelajari konsep pertanian cerdas yang digagas oleh Mas Bayu Dwi Apri Nugroho dari Tehnik Pertanian dan Biosistem UGM, yang telah menerangkan hasil penelitian alat penghitung gas karbon untuk pertanian. Beliau mengembangkan algoritma tersendiri dari alat penghitung emisi gas rumah kaca secara realtime yang dapat dimanfaatkan dalam menghitung perubahan musim akibat efek rumah kaca yang dihasilkan dari lahan pertanian.

Alat ini kedepannya diharapkam dapat menjadi salah satu instrumen dalam menentukan musim tanam bagi petani.

Pemerhati Ketahanan Pangan Dede Farhan Aulawi, di Jakarta hari Selasa (21/1) sangat mengapresiasi hasil riset Mas Bayu yang sangat bermanfaat buat pengembangan pertanian saat ini dan masa depan, terkait dengan pertanian cerdas yang mampu melakukan penghitungan gas emisi rumah kaca di lahan pertanian. Melalui teknologi itu dapat diketahui informasi tentang emisi gas rumah kaca yaitu gas metan (CH4), karbondioksida (CO2), amonium (NH4) yang dihasilkan dari lahan pertanian. Dimana selama ini, pengembangan pertanian cerdas selalu berorientasi pada proses budidaya atau on-farm. Padahal data-data yang diperoleh dari sensor-sensor yang dipasang di lahan pertanian dapat dipakai untuk menghitung informasi lain di luar on-farm. Salah satunya adalah menghitung emisi gas rumah kaca di lahan pertanian.

Sumber emisi utama gas rumah kaca dari sektor pertanian berasal dari pertanian konvensional yang menggunakan pupuk kimia dan irigasi berlebih, penggunaan pupuk yang belum terfermentasi, dan pembakaran jerami di lahan pertanian secara masif. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk membuat suatu perhitungan dengan memanfaatkan data dari sensor secara real time dan update seperti data iklim, paremeter tanah dan pertumbuhan tanaman.

Data – data di atas dapat digunakan untuk mengevaluasi sistem irigasi dan menghitung konsentrasi emisi gas rumah kaca, sehingga dapat diperoleh data untuk perhitungan emisi gas rumah kaca yang didapatkan dari telemetri.

Selanjutnya diolah dengan model jaringan saraf tiruan sehingga akan didapatkan nilai penurunan emisi yang terdapat di lahan pertanian.

Adapun lima sensor yang digunakan dalam field monitoring system (FMS)-nya, adalah sensor radiasi matahari, arah dan kecepatan angin, kelembaban dan suhu udara, hujan dan kelembaban tanah termasuk suhu dan daya hantar listrik tanah.

Sementara itu, terkait dengan fungsi telemetri akan digunakan sebagai instrumen pengirim data dari data logger ke server otomatis setiap hari dengan memakai modem dari provider telekomunikasi, dan juga dilengkapi oleh suatu kamera yang berfungsi untuk memonitor padi dan solar panel sebagai pembangkit daya.

Akhirnya para user yang memanfaatkan teknologi ini dapat mengakses seluruh data baik berupa data numerik, grafik maupun gambar atau foto lewat website yang telah dibangun.

“ Untuk itulah Gerakan Ketahanan Pangan (Getahpalu) Nusantara lahir, tumbuh dan berkembang untuk membantu rumuskan konsep dan realitas ketahanan pangan yang praktis dan sederhanan. Buat hanya untuk kalangan tertentu saja, tetapi semua keluarga Indonesia bisa melakukan dan memprektekannya. Manfaatkan setiap jengkal tanah menjadi lahan produktif, sehingga Indonesia dan seluruh bangsa ini akan terhindar dari kemungkinan munculnya krisi pangan dunia “, harap Dede.

Pengembangan pertanian cerdas berbasis IoT dapat mendukung pembangunan rendah karbon di Indonesia, khususnya bidang pertanian. Di samping itu, petani juga akan terbantu karena kemudahan dalam menjalankan aktivitas bertani yang memanfaatkan teknologi.

Selain itu juga mendorong peningkatan produktivitas pertanian karena penerapan kalender tanam dan pola tanam yang tepat serta biaya produksi lebih rendah.

“ Semoga di Indonesia ini lahir para inovator – inovator pertanian yang selalu berfikir dan bekerja dengan ikhlas demi kemaslahatan seluruh umat manusia. Marilah kita bekerja tanpa harus menunggu semua teriak karena krisis pangan mengancam dunia, tetapi kita selalu bekerja sungguh – sungguh tanpa harus diancam oleh siapapun. Saat kita bekerja secara bersungguh – sungguh dan ikhlas, maka Alloh Dzat Pengatur Rezeki, insya alloh akan memberikan kecukupan rejeki yang barokah buat kita semua “, harap Dede menutup percakapan.

( Red )

Komentar

News Feed