PenaKu.ID – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang wilayah barat Prefektur Shizuoka, Jepang, pada Minggu (8/11/2026) pukul 01.04 waktu setempat. Getaran terkuat mencapai intensitas Shindo 5 kuat di Kota Chita, Prefektur Aichi. Meski tidak memicu peringatan tsunami, otoritas Jepang meminta masyarakat di kawasan terdampak tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Badan Meteorologi Jepang atau Japan Meteorological Agency (JMA) melaporkan, pusat gempa Jepnag berada di bagian barat Prefektur Shizuoka dengan kedalaman sekitar 41 kilometer. Sementara itu, angka magnitudo 5,7 masih bersifat sementara dan berpeluang mengalami perubahan setelah proses analisis lebih lanjut.
Guncangan gempa Jepang tidak hanya dirasakan di wilayah Shizuoka. Sejumlah daerah di Prefektur Aichi, Nagano, dan Gifu juga melaporkan getaran dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda.
Data JMA menunjukkan Kota Chita menjadi wilayah dengan intensitas guncangan tertinggi, yakni Shindo 5 kuat. Associated Press (AP) juga melaporkan bahwa dampak getaran terasa di kawasan yang cukup luas di sekitar Prefektur Aichi.
Setelah gempa utama terjadi, sejumlah aktivitas seismik dengan kekuatan lebih rendah turut tercatat di kawasan tersebut.
JMA Pastikan Gempa Jepang Tidak Berpotensi Tsunami
JMA memastikan gempa Jepang yang mengguncang wilayah barat Shizuoka tersebut tidak menimbulkan ancaman tsunami. Kendati demikian, masyarakat tetap diminta memperhatikan kondisi lingkungan, khususnya di daerah yang mengalami guncangan kuat.
Potensi bahaya lanjutan yang perlu diantisipasi antara lain tanah longsor, jatuhan batu, serta kerusakan bangunan akibat getaran gempa.
Dalam laporan pemantauannya, JMA mencatat adanya aktivitas gempa susulan dengan intensitas Shindo 1 atau lebih hingga pukul 02.35 waktu setempat. Gempa susulan yang terpantau tersebut mencapai intensitas Shindo 2.
Otoritas Jepang juga mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak agar meningkatkan kewaspadaan selama kurang lebih satu minggu setelah gempa utama.
Berdasarkan pola kejadian gempa sebelumnya, aktivitas seismik dengan intensitas serupa masih mungkin berlangsung setelah gempa utama. Risiko tersebut umumnya perlu mendapat perhatian lebih dalam dua hingga tiga hari pertama.
Namun, imbauan tersebut merupakan langkah antisipasi berdasarkan catatan historis aktivitas gempa, bukan prediksi atau kepastian bahwa gempa yang lebih besar akan terjadi.
Gempa Terjadi di Kawasan Perkiraan Sumber Gempa Nankai Trough
Lokasi gempa Jepang di bagian barat Shizuoka turut menjadi perhatian karena berada dalam wilayah perkiraan sumber gempa Nankai Trough. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu zona tektonik aktif yang memiliki potensi menghasilkan gempa bumi berkekuatan besar.
Nankai Trough merupakan zona subduksi tempat Lempeng Laut Filipina bergerak menunjam ke bawah wilayah Jepang. Interaksi antarlempeng di kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat wilayah Jepang memiliki risiko aktivitas seismik tinggi.
Meski demikian, JMA menegaskan bahwa gempa Jepang bermagnitudo 5,7 pada 8 November 2026 tidak menunjukkan adanya perubahan khusus pada kondisi penguncian antarlempeng di sepanjang Nankai Trough.
Artinya, gempa Jepang tersebut tidak bisa langsung ditafsirkan sebagai pertanda bahwa gempa besar atau megagempa Nankai Trough akan segera berlangsung.
Pemantauan terhadap aktivitas seismik dan perubahan kerak bumi di kawasan tersebut tetap dilakukan secara berkelanjutan oleh otoritas terkait.
Aktivitas Gempa Jepang Terus Menjadi Perhatian
Jepang termasuk negara dengan tingkat aktivitas gempa bumi yang tinggi karena terletak di kawasan Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire. Wilayah kepulauan tersebut berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik yang terus bergerak dan berinteraksi.
Aktivitas tersebut menyebabkan gempa bumi menjadi salah satu ancaman bencana alam yang harus diantisipasi secara berkelanjutan.
Sebelum gempa di Shizuoka, gempa bermagnitudo 6,1 juga tercatat oleh United States Geological Survey (USGS) pada 6 November 2026. Pusat gempa tersebut berada sekitar 156 kilometer di tenggara Hasaki, Jepang, dengan kedalaman 10 kilometer.
Meski sama-sama terjadi di Jepang dalam rentang waktu berdekatan, kedua peristiwa tersebut merupakan kejadian gempa yang berbeda. Belum ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa keduanya merupakan bagian dari satu rangkaian aktivitas gempa yang sama.
Hingga pembaruan informasi pada Minggu (8/11/2026), JMA belum mengeluarkan peringatan tsunami terkait gempa di wilayah barat Shizuoka.
Masyarakat yang berada di kawasan terdampak diimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi dari otoritas resmi serta mengantisipasi kemungkinan gempa susulan.** (tds)











