PenaKu.ID – Wakil Wali Kota Saijo, Prefektur Ehime, Jepang, Akihiro Nabae, meninggal dunia setelah tertimpa struktur arak-arakan dalam Festival Saijo pada Sabtu (17/10/2026). Kepolisian setempat masih menyelidiki penyebab kecelakaan yang menewaskan pejabat berusia 62 tahun tersebut.
Dikutip dari laporan The Guardian dan The Japan Times, insiden terjadi ketika Nabae mengikuti Festival Saijo, perayaan tahunan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat di Jepang bagian barat.
Kecelakaan berlangsung saat sejumlah struktur berukuran besar berkumpul di lokasi festival. Wakil Wali Kota Nabae dilaporkan terjebak di bawah salah satu struktur ketika mengikuti arak-arakan. Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Pejabat kepolisian setempat, Makoto Hagiyama, mengatakan kepada kantor berita Agence France-Presse (AFP) bahwa penyebab insiden tersebut masih dalam penyelidikan. Hingga kini, belum ada kesimpulan resmi mengenai kronologi maupun faktor yang menyebabkan kecelakaan.
Struktur Festival Saijo Berbobot Hingga Tiga Ton
Festival Saijo menggunakan struktur arak-arakan tradisional yang dikenal sebagai taikodai. Struktur berukuran besar ini membutuhkan banyak orang untuk mengangkat dan menggerakkannya selama prosesi berlangsung.
Struktur tersebut memiliki berat sekitar dua hingga tiga ton dengan tinggi mencapai sekitar 5,3 meter. Dalam salah satu rangkaian festival, sejumlah struktur ditempatkan berdekatan untuk mengikuti prosesi tradisional.
Ukuran dan bobot struktur tersebut membuat koordinasi antarpeserta menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan. Meski demikian, belum ada keterangan resmi yang memastikan apakah kecelakaan yang menewaskan Nabae disebabkan oleh struktur yang terbalik, pergerakan peserta, atau faktor lainnya.
Penyebab pasti insiden masih menunggu hasil penyelidikan kepolisian setempat.
Akihiro Nabae Baru Menjabat Wakil Wali Kota Sejak Juli 2026
Pernah Bekerja di Departemen Lingkungan Hidup
Wakil Wali Kota Akihiro Nabae mulai menjabat sebagai Wakil Wali Kota Saijo pada Juli 2026. Sebelum menduduki posisi tersebut, ia pernah menjabat sebagai direktur di departemen lingkungan hidup pemerintah kota.
Masa jabatannya sebagai wakil wali kota masih tergolong singkat ketika kecelakaan tersebut terjadi.
Wali Kota Saijo, Mitsuyoshi Ochi, menyampaikan kesedihan atas meninggalnya Nabae. Ochi menggambarkan kepergian tersebut sebagai kehilangan besar bagi pemerintahan kota yang baru mulai bekerja bersama Nabae.
Meninggalnya Nabae menjadi kehilangan bagi jajaran pemerintah kota di tengah berlangsungnya kegiatan tradisional masyarakat setempat.
Kecelakaan Festival Jepang Kembali Menjadi Sorotan
Kematian Nabae kembali menyoroti risiko keselamatan dalam penyelenggaraan festival tradisional di Jepang, terutama kegiatan yang melibatkan struktur berukuran besar dan berbobot berat.
Dalam laporan terpisah, The Guardian memberitakan bahwa dua pria meninggal dunia dalam insiden yang melibatkan struktur festival Danjiri di Prefektur Osaka pada pekan sebelumnya. Dalam kejadian tersebut, struktur festival dilaporkan terbalik ketika melakukan manuver di tikungan.
Meski kedua peristiwa sama-sama terjadi dalam kegiatan festival, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa keduanya memiliki penyebab yang sama. Masing-masing insiden memerlukan penyelidikan tersendiri untuk mengidentifikasi faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan.
Festival Saijo sendiri merupakan perayaan tahunan yang diisi dengan arak-arakan dan berbagai kegiatan budaya. Tradisi tersebut memiliki nilai sejarah dan sosial bagi masyarakat setempat.
Polisi Masih Mendalami Penyebab Kematian Akihiro Nabae
Hingga berita ini disusun, kepolisian belum mengumumkan kesimpulan resmi mengenai penyebab kecelakaan yang menewaskan Akihiro Nabae. Informasi yang tersedia menyebutkan bahwa ia meninggal dunia setelah tertimpa struktur festival saat mengikuti arak-arakan.
Penyelidikan diharapkan dapat mengungkap kronologi kejadian serta faktor yang menyebabkan insiden tersebut.
Peristiwa ini sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan risiko dalam kegiatan budaya yang melibatkan benda berat, pergerakan massa, dan koordinasi banyak peserta. Pelestarian tradisi tetap memiliki arti penting bagi masyarakat, tetapi aspek keselamatan perlu menjadi perhatian agar kegiatan serupa tidak kembali menimbulkan korban jiwa.** (tds)











