oleh

Dunia Politik Ditengah Wabah Covid-19 Tetap Dinamis

ketua penjaringan calon bupati dan wakil bupati kab bandung, Drs. H. Yuyun saefudin

PenaKu.ID – Menyikapi masalah pasangan Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati Bandung periode tahun 2020-2025, antara Hj. Yena Iskandar Masoem yang direkomendasi Partai PDI Perjuangan dengan Atep Rizal yang baru-baru ini bergabung di Partai Demokrat, dikatakan Ketua Tim Penjaringan Bupati DPC Demokrat dan Ketua BP-OKK Partai Demokrat Kab. Bandung, Drs. Yuyun saepudin, ini merupakan bukti bahwa dunia politik di tengah kondisi penanggulangan Covid-19 tetap dinamis.

Untuk Yena, dikemukakannya, saat ini terus bergerak melakukan penjajagan dan beberapa kali digadang-gadangkan dengan beberapa tokoh yang dianggapnya mempunyai nilai popularitas dan elektabilitas tinggi. sebagai pendampingnya kelak. Dan sekarang lagi ramai digadangkan dengan mantan pemain sepak bola Persib Bandung, Atep Rizal, yang baru-baru ini bergabung di Demokrat. Berita Yena-Atep dalam beberapa hari ini banyak menghiasi media massa, baik cetak maupun elektronik khususnya media online.

“Atep direpresentasikan mewaikili Partai Demokrat, padahal dalam beberapa bulan ke belakang, Partai Demokrat telah melakukan penjaringan cabup/cawabup Kab. Bandung 2020-2025, dan ternyata Atep tidak termasuk yang ikut serta dalam penjaringan tersebut,” katanya di DPC Demokrat, Rabu (20/5/2020).

Yuyun menjelaskan, untuk sementara sesuai arahan BAPPILU pusat DPC masih berpegang pada Juklak PILKADA DPP Partai Demokrat Nomor 02 Tahun 2020 yang didalamnya mengatur secara rinci tahapan, persyaratan dan lain-lain yang berkaitan dengan mekanisme perekrutan Calon Kepala Daerah.

Diungkapkan Yuyun, dengan demikian, sekalipun secara aturan yang ada memungkinkan terbentuk pasangan Yena -Atep, tapi itu baru hanya bagian dari komoditi politik yang diwacanakan. Tapi diluar normatif tahapan penjaringan diatur sebagaimana dalam juklak DPP Demokrat.

“Kalo pasangan Yena-Atep terus menggelinding dan akhirnya diakomodir masing-masing partai, yaitu PDI Perjuangan dan Partai Demokrat, maka akan terjadi perubahan peta politik. Karena sebelumnya sudah terbentuk koalisi antara Partai PKS dan Partai Demokrat,” ujarnya.

Sebenarnya, Yuyun menambahkan, dalam sebuah dinamika politik hal itu bisa saja terjadi dan itu sah, karena target semua partai pasti ingin menang, akan tetapi pasti menimbulkan kekecewaan. Tapi itulah resiko dari sebuah kerjasama politik. Sampai hari ini partai demokrat konsisten berkoalisi dengan PKS sesuai dengan MOU yang sudah disepakati bersama, dan konsisten dengan tahapan kegiatan yang sedang berjalan.



(Al fattah)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.