Ekonomi

Dolar Perkasa, Rupiah Tertekan di Awal April

Dolar Perkasa, Rupiah Tertekan di Awal April
Dolar Perkasa, Rupiah Tertekan di Awal April. /Ilustrasi (pexels)

PenaKu.ID – Berdasarkan data perdagangan terbaru yang dilansir dari sejumlah sumber, rupiah diperdagangkan dalam rentang Rp17.000 hingga Rp17.025 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI), yakni Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), tercatat berada di kisaran Rp16.980 per dolar AS, relatif sejalan dengan pergerakan di pasar.

Dalam perdagangan harian, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.090 per dolar AS. Angka tersebut menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah, seiring menguatnya dolar AS di pasar global.

Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Di antaranya kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih ketat, meningkatnya ketidakpastian geopolitik, serta arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang. Sepanjang 2026, rupiah tercatat telah melemah lebih dari 2 persen.

Merespons kondisi ini, Bank Indonesia melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan baik di pasar spot, instrumen non-deliverable forward (NDF), maupun pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.

Upaya tersebut ditujukan untuk menjaga keseimbangan pasar sekaligus meredam volatilitas yang berlebihan. Selain itu, otoritas moneter juga berupaya meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik guna menarik kembali aliran modal asing.

Histori Pelemahan Rupiah terhadap Dolar

Secara historis, tren pelemahan rupiah telah terlihat sejak akhir 2025. Pada Oktober tahun lalu, rupiah masih berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS, kemudian melemah secara bertahap hingga mendekati Rp17.000 pada Maret 2026, sebelum akhirnya menembus level tersebut pada April.

Pelemahan nilai tukar membawa dampak beragam bagi perekonomian. Di satu sisi, kenaikan biaya impor berpotensi menekan inflasi. Namun di sisi lain, kondisi ini dapat meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif. Pelaku pasar mencermati arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve, dinamika geopolitik, serta arus modal global sebagai faktor utama yang memengaruhi nilai tukar.

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif terjaga diharapkan dapat menjadi penopang stabilitas rupiah dalam jangka menengah.** (tds)

Exit mobile version