Peristiwa

Bukan Salju! Ini Penyebab Permukiman Putih yang Viral di Bandung Barat

Bukan Salju! Ini Penyebab Permukiman Putih yang Viral di Bandung Barat
Bukan Salju! Ini Penyebab Permukiman Putih yang Viral di Bandung Barat

PenaKu.ID – Fenomena permukiman yang tampak memutih bak diselimuti salju di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial. Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat memastikan lapisan putih yang menyelimuti kawasan itu merupakan debu hasil aktivitas pengolahan batu kapur, bukan fenomena alam.

DLH Bandung Barat kini tengah melakukan penyelidikan terhadap sejumlah industri pengolahan batu kapur yang beroperasi di wilayah Cipatat. Salah satu perusahaan, PT Batu Wangi Putra Sejahtera, telah dipanggil untuk dimintai klarifikasi pada Senin (29/6/2026).

Pemanggilan tersebut merupakan tindak lanjut dari inspeksi lapangan yang dilakukan tim Pengawas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) pada Selasa (23/6/2026).

Kepala DLH Kabupaten Bandung Barat, Ibrahim Adjie, mengatakan proses pemeriksaan masih berlangsung sehingga hasil investigasi belum dapat dipublikasikan secara lengkap.

“Selasa kemarin teman-teman PPLH sudah melakukan verifikasi ke lapangan ke industri pengolahan batu kapur di kawasan Kecamatan Cipatat. Hari ini ada satu perusahaan yang kami panggil untuk dimintai keterangan sebagai tindak lanjut hasil verifikasi lapangan,” ujarnya.

Meski demikian, DLH Bandung Barat telah mengantongi sejumlah temuan awal yang saat ini masih diperdalam melalui pemeriksaan administrasi serta pengujian laboratorium.

“Kami sudah mengantongi beberapa bukti hasil verifikasi lapangan, tetapi hasilnya belum bisa disampaikan karena menunggu berkas pemeriksaan rampung, termasuk hasil pemeriksaan hari ini dan hasil uji laboratorium,” kata Ibrahim.

Berdasarkan hasil peninjauan di lokasi yang viral, DLH memastikan lapisan putih yang menempel pada atap rumah, pepohonan, hingga badan jalan berasal dari debu pengolahan batu kapur.

“Kalau peninjauan langsung terhadap lokasi yang viral itu, dipastikan warna putih tersebut merupakan debu dari pengolahan batu kapur,” tegasnya.

Hasil pemeriksaan sementara juga menunjukkan adanya dugaan kelemahan dalam sistem pengendalian pencemaran di area produksi. Salah satu indikasinya adalah perusahaan diduga belum memiliki suction system atau alat penyedot debu industri yang berfungsi menahan partikel halus agar tidak menyebar ke lingkungan sekitar.

Kondisi tersebut diduga menyebabkan debu mikroskopis beterbangan hingga mencapai kawasan permukiman dan berdampak pada penurunan kualitas udara.

“Perusahaan tidak memiliki alat suction atau penghisap debu industri untuk mengurangi debu kapur di area kerja pabrik, sehingga kawasan sekitar dipenuhi debu mikroskopis yang menyebabkan kualitas udara menurun,” jelas Ibrahim.

DLH Bandung Barat juga membuka peluang menjatuhkan sanksi apabila hasil pemeriksaan nantinya membuktikan adanya pelanggaran terhadap ketentuan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

“Potensi sanksi bisa saja dikenakan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pencemaran atau pelanggaran lingkungan. Namun, kita tunggu dulu hasil pemeriksaan secara menyeluruh,” ujarnya.

Hujan Kapur di Kampung Pamucatan Bandung Barat Bukan Hal Baru

Fenomena yang oleh warga disebut sebagai “hujan kapur” itu terjadi di Kampung Pamucatan, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat. Video yang beredar memperlihatkan kawasan permukiman berwarna putih sehingga sekilas menyerupai wilayah yang tertutup salju.

Bagi warga setempat, kondisi tersebut bukanlah hal baru. Debu batu kapur disebut telah bertahun-tahun menyelimuti lingkungan mereka, terutama saat musim kemarau.

Salah seorang warga, Hidayat (42), mengatakan berkurangnya penggunaan air dalam proses produksi saat musim kemarau membuat debu lebih mudah beterbangan akibat tiupan angin.

“Iya, apalagi musim kemarau seperti sekarang. Penggilingan batu kapur memerlukan air cukup banyak. Kalau air berkurang ditambah angin kencang, debunya tertiup keluar kawasan industri,” katanya.

Hidayat juga mengaku sempat mengaitkan kondisi lingkungan tersebut dengan gangguan kesehatan yang dialami kedua anaknya. Menurutnya, kedua anaknya menderita asma sejak kecil meski tidak memiliki riwayat penyakit serupa dalam keluarga.

Ia menyebut kondisi kesehatan anak-anaknya mulai membaik setelah tidak lagi tinggal di kawasan tersebut.

“Dulu kedua anak saya sering terkena asma sejak kecil. Padahal di keluarga kami tidak ada riwayat penyakit asma. Setelah pindah ke pesantren, keluhannya berangsur membaik dan sekarang sudah jarang kambuh,” tuturnya.

Meski demikian, Hidayat menegaskan dirinya tidak menginginkan aktivitas industri batu kapur dihentikan. Ia berharap pemerintah memperketat pengawasan, membenahi tata kelola industri, serta memastikan kegiatan pertambangan memiliki zonasi yang jelas sehingga aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

“Harapan saya bukan ingin menutup industrinya, tetapi ada perbaikan tata kelola supaya dampak negatifnya bisa ditekan. Kemudian kegiatan pertambangan juga sebaiknya memiliki zonasi yang jelas,” tandasnya.**

Exit mobile version