PenaKu.ID – Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi kembali meningkat pada Oktober 2026 setelah serangkaian serangan lintas batas menyasar fasilitas strategis di wilayah Saudi. Riyadh merespons dengan melancarkan serangan udara ke daerah-daerah di Yaman yang berada di bawah kendali Houthi. Eskalasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik yang sempat mereda melalui jalur diplomasi akan kembali berkembang menjadi perang berskala besar.
Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman, Hans Grundberg, pada 9 Oktober memperingatkan bahwa negara tersebut kembali memasuki fase perang berskala penuh. Dalam pengarahan kepada Dewan Keamanan PBB, ia mengungkapkan bahwa pertempuran telah meluas ke sejumlah wilayah, termasuk Taiz, Lahj, Marib, al-Jawf, dan Hajjah.
Peningkatan kekerasan tersebut terjadi ketika konflik yang selama bertahun-tahun berpusat di Yaman kembali menjalar ke wilayah Arab Saudi. Serangan terhadap fasilitas sipil dan infrastruktur energi turut memperbesar kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap stabilitas Timur Tengah.
Pada 13 Oktober bahwa Arab Saudi kembali aktif dalam operasi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam menghadapi kelompok Houthi. Perkembangan ini menandai meningkatnya keterlibatan militer Riyadh di tengah situasi keamanan yang kembali memburuk.
Serangan Houthi dan Balasan Arab Saudi
Bandara dan fasilitas energi menjadi sasaran
Kelompok Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi, termasuk bandara di Abha dan Riyadh. Associated Press melaporkan bahwa serangan pada 7 Oktober mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka.
Ketegangan kembali meningkat pada 13 Oktober setelah kompleks administratif perusahaan minyak milik negara Saudi, Saudi Aramco, di Dhahran menjadi sasaran serangan. Mengutip keterangan otoritas energi Arab Saudi, Reuters melaporkan bahwa insiden tersebut memicu kebakaran terbatas dan menyebabkan kerusakan pada sebagian bangunan.
Meski demikian, tidak ada korban jiwa maupun korban luka yang dilaporkan di lokasi kejadian tersebut.
Sebagai respons, Arab Saudi meningkatkan tekanan militernya terhadap wilayah Yaman yang dikuasai Houthi. Pada 13 Oktober, serangan udara koalisi pimpinan Saudi dilaporkan menyasar fasilitas penyimpanan bahan bakar di sekitar Sanaa. Serangan itu dilakukan setelah muncul peringatan kepada warga agar menjauhi area yang menjadi sasaran.
Rangkaian serangan dan aksi balasan tersebut memperlihatkan meningkatnya risiko konfrontasi terbuka antara kedua pihak. Namun, dinamika konflik tidak hanya ditentukan oleh hubungan Saudi dan Houthi, melainkan juga oleh pertempuran antarkelompok di Yaman yang memiliki kepentingan politik dan teritorial berbeda.
Akar Konflik Saudi-Houthi Berawal dari Perang Saudara Yaman
Intervensi militer Saudi sejak 2015
Konflik antara Arab Saudi dan Houthi berkaitan erat dengan perang saudara Yaman yang semakin memburuk sejak 2014. Pada tahun tersebut, Houthi berhasil merebut ibu kota Sanaa dan memperluas pengaruhnya terhadap lembaga-lembaga pemerintahan.
Situasi tersebut mendorong Arab Saudi memimpin koalisi militer pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Intervensi itu mengubah konflik domestik menjadi perang dengan dimensi regional yang lebih luas.
Bagi Riyadh, meningkatnya kekuatan Houthi di dekat perbatasan selatan menjadi ancaman keamanan. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kemampuan kelompok itu melancarkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak.
Di sisi lain, Houthi menentang intervensi militer Saudi dan berupaya mempertahankan kendali atas wilayah yang telah dikuasainya. Perbedaan kepentingan ini membuat penyelesaian konflik semakin rumit.
Hubungan Houthi dengan Iran memperumit situasi
Keterkaitan Houthi dengan Iran turut menambah kompleksitas konflik Yaman. Pemerintah Arab Saudi dan sejumlah negara Barat menyoroti dukungan militer Iran terhadap kelompok tersebut.
Meski demikian, Houthi juga mempunyai kepentingan politik serta basis kekuatan di dalam negeri. Karena itu, konflik Yaman tidak dapat dipahami hanya sebagai persaingan geopolitik antara Riyadh dan Teheran.
Faktor domestik, termasuk perebutan kekuasaan dan pengaruh antarkelompok di Yaman, tetap menjadi bagian penting dalam memahami penyebab serta keberlanjutan perang.
Upaya Perdamaian Yaman Kembali Menghadapi Hambatan
Gencatan senjata belum menyelesaikan akar konflik
Upaya diplomatik yang dimediasi PBB sempat menurunkan intensitas pertempuran besar pada 2022. Pada periode tersebut, Arab Saudi dan Houthi juga terlibat dalam sejumlah upaya diplomasi untuk mengurangi ketegangan dan membuka peluang penyelesaian politik.
Namun, gencatan senjata formal berakhir pada Oktober 2022 tanpa menghasilkan kesepakatan damai yang menyeluruh. Sejumlah persoalan mendasar masih belum terselesaikan, mulai dari pembagian kekuasaan dan pengelolaan pendapatan negara hingga pembayaran gaji pegawai negeri serta pengaturan keamanan.
Eskalasi terbaru memperlihatkan bahwa penurunan intensitas pertempuran sebelumnya belum mampu mengatasi akar konflik. Kembalinya operasi militer dan serangan lintas batas berpotensi semakin mempersempit ruang bagi perundingan.
Grundberg kembali menyerukan langkah politik untuk mencegah perang menjadi kondisi permanen di Yaman. PBB menilai penghentian kekerasan dan keterlibatan seluruh pihak dalam perundingan merupakan langkah penting untuk mencapai penyelesaian yang berkelanjutan.
Tanpa komitmen politik yang kuat, upaya diplomasi berisiko kembali terhambat oleh perkembangan militer di lapangan.
Konflik Yaman Mengancam Keamanan Laut Merah dan Warga Sipil
Selat Bab el-Mandeb menjadi perhatian dunia
Meningkatnya pertempuran juga memicu kekhawatiran terhadap keamanan Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur ini merupakan bagian penting dari jaringan perdagangan internasional yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Ancaman terhadap keselamatan pelayaran berpotensi mendorong perusahaan perkapalan mengalihkan rute perjalanan. Kondisi tersebut dapat memperpanjang waktu pengiriman sekaligus meningkatkan biaya logistik dan asuransi.
Selain itu, serangan terhadap infrastruktur energi berpotensi mengganggu kegiatan produksi dan distribusi minyak. Besarnya dampak terhadap pasokan energi tetap bergantung pada tingkat kerusakan serta gangguan operasional yang benar-benar terjadi.
Dengan demikian, eskalasi konflik di Yaman tidak hanya menjadi persoalan keamanan regional, tetapi juga berpotensi memengaruhi perdagangan dan distribusi energi global.
Krisis kemanusiaan semakin mengkhawatirkan
Di dalam negeri, dampak perang terhadap masyarakat Yaman semakin memprihatinkan. Dalam pengarahan pada 9 Oktober, PBB menyebut lebih dari 200.000 orang telah mengungsi di dalam negeri sejak awal Agustus 2026. Pertempuran di sekitar Taiz turut memperburuk akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar.
Warga sipil menghadapi berbagai ancaman, mulai dari serangan bersenjata dan gangguan distribusi pangan hingga kenaikan harga kebutuhan pokok serta terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak perang tidak hanya berkaitan dengan perubahan wilayah kekuasaan. Keberlangsungan hidup masyarakat, ketersediaan kebutuhan pokok, dan akses terhadap layanan dasar juga menjadi persoalan mendesak yang harus ditangani.
Karena itu, penghentian kekerasan menjadi penting bukan hanya untuk memulihkan stabilitas politik, tetapi juga untuk mengurangi penderitaan penduduk yang terdampak konflik.
Masa Depan Konflik Saudi-Houthi Masih Belum Pasti
Eskalasi pada Oktober 2026 menempatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi dalam situasi yang semakin kompleks. Riyadh menghadapi tantangan untuk melindungi wilayahnya dari serangan lintas batas, sementara perluasan operasi militer berisiko memperpanjang perang dan memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman.
Di sisi lain, penyelesaian konflik membutuhkan langkah yang lebih luas daripada sekadar menghentikan serangan. Kesepakatan politik perlu mempertimbangkan kepentingan berbagai kelompok di Yaman, persoalan pembagian kekuasaan dan sumber daya, serta pengaturan keamanan yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang terlibat.
Hingga saat ini, belum ada kepastian bahwa eskalasi akan segera berakhir. Perkembangan di medan perang, sikap Arab Saudi dan Houthi, serta efektivitas mediasi internasional akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah konflik bergerak menuju perundingan atau justru memasuki fase pertempuran yang lebih luas.
Satu hal yang jelas, perang Yaman tidak lagi terbatas pada perebutan kekuasaan di dalam negeri. Konflik tersebut juga berkaitan dengan keamanan Timur Tengah, perlindungan warga sipil, dan kelancaran perdagangan internasional. Tanpa upaya diplomatik yang efektif dan komitmen nyata dari pihak-pihak yang bertikai, peluang tercapainya perdamaian berkelanjutan akan tetap menghadapi tantangan besar.** (tds)
