Uncategorized

Air Mata di Pundak Baru: Kisah Ketabahan Resimen 55 Desaka Dhira Pradhipa yang Kini Berpangkat Ipda

IMG 20260604 WA0070
Foto Istimewa: Komandan Resimen (Danmen) SIP Angkatan 55, Berlin Sinaga, S.H., M.H bersama Humas Resimen Angkatan 55 Resimen Desaka Dhira Pradhipa, Ita Saat di wawancara awak media Seusai Upacara Penutupan Pendidikan dan Pelantikan di Lapang Soetadi Ronodipuro Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi, Kamis (4/6/2026).

PenaKu.ID – Ada sebuah aroma yang khas di Lapangan Upacara Soetadi Ronodipuro Setukpa Lemdiklat Polri, Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, pada Kamis (4/6/2026). Aroma itu bukan sekadar wangi rumput yang basah, melainkan campuran antara keringat yang mengering, air mata haru yang menetes, dan tawa bahagia yang pecah secara bersamaan.

Hari itu, ribuan siswa Sekolah Inspektur Polisi (SIP) Angkatan 55 Resimen Desaka Dhira Pradhipa resmi dilantik. Bagi mereka, dua balok perak yang kini bertengger di pundak bukan sekadar tanda pangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda), melainkan sebuah prasasti dari perang batin yang berhasil mereka menangkan.

Empat Bulan yang Meremukkan Sekaligus Menempa

Pendidikan perwira bukanlah jalan tol yang mulus. Selama empat bulan, para siswa dipaksa melampaui batas kemampuan fisik dan mental mereka. Di balik seragam yang gagah, tersimpan cerita tentang rindu rumah yang tertahan, fisik yang lelah hingga ke tulang, serta dinamika emosional yang kerap naik-turun bak ombak.

Komandan Resimen (Danmen) SIP Angkatan 55, Berlin Sinaga, S.H., M.H., tidak mampu menyembunyikan getar di suaranya saat berbicara kepada awak media seusai upacara. Guratan lelah di wajahnya mendadak sirna, berganti pendar kebanggaan yang teramat besar.

“Kami seluruhnya satu rasa, penuh rasa bangga dan haru atas selesainya pendidikan yang sudah kami lalui ini. Dengan penuh rasa suka, duka, dan emosional yang kadang naik-turun, akhirnya bisa kami selesaikan dengan seizin Tuhan,” ujar Berlin, matanya berkaca-kaca menahan badai emosi yang membuncah di dada saat di wawancara awak media.

Buah Manis dari Ketabahan yang Sunyi

Di sudut lapangan yang lain, ada pemandangan yang tak kalah menyentuh. Vedrin, sang pimpinan resimen yang selama ini menjadi tiang sandaran bagi rekan-rekannya, berdiri dengan kepala tegak namun dengan hati yang penuh keinsafan. Hari itu ia dinobatkan sebagai Siswa Terbaik kategori Tertabah dengan Kepribadian dan Mental Terbaik.

Sebuah penghargaan yang tidak didapatkan dari sekadar teori di kelas, melainkan dari malam-malam sepi saat ia harus menata hatinya sendiri demi bisa menguatkan ratusan orang yang dipimpinnya.

“Saya meyakini bahwasanya buah kesabaran itu memang sangat diperlukan,” ucap Vedrin pelan, namun sarat penekanan. “Sikap tertabah itulah yang membuat saya bisa bertahan dan mensukseskan dari mulai awal sampai akhir pendidikan.”

Bagi Vedrin, ketabahan bukanlah tentang tidak adanya rasa sakit, melainkan kemampuan untuk terus melangkah maju meski kaki terasa berat. Dan hari ini, rasa sakit itu mengkristal menjadi kebahagiaan yang tiada tara.

Senyum di Balik Air Mata

Lelah itu nyata, namun kemenangan ini jauh lebih nyata. Ita, selaku Humas SIP Angkatan 55, menyampaikan rasa terima kasihnya dengan mata yang berbinar. Ada nada kelegaan yang luar biasa dalam setiap kalimat yang diucapkannya. Beban berat yang dipikul berbulan-bulan seolah menguap begitu saja.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah mendukung kami… hingga kami bisa mencapai titik puncak kami, yaitu pangkat Ipda di pundak kami,” tutur Ita. 

Ia menutup kalimatnya dengan sebuah senyuman lebar sebuah senyum yang menceritakan bahwa segala air mata di masa lalu telah lunas dibayar hari ini.

Kini, lapangan upacara perlahan sepi, namun semangat baru baru saja lahir. Para perwira baru Resimen Desaka Dhira Pradhipa siap melangkah kembali ke kesatuan masing-masing. Mereka pulang bukan lagi sebagai orang yang sama dengan empat bulan lalu; mereka pulang sebagai pemimpin garis depan Polri yang membawa ketabahan dalam tugas, dan kebahagiaan dalam mengayomi masyarakat.

***

Exit mobile version