PenaKu.ID – Bumi yang selama ini dikenal sebagai planet berbentuk bulat ternyata memiliki karakteristik fisik yang terus mengalami perubahan. Sejumlah proses alam, seperti pencairan es di wilayah kutub, perubahan distribusi air, hingga aktivitas tektonik, turut memengaruhi kondisi fisik planet tempat manusia tinggal tersebut.
Penelitian terbaru Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang dipublikasikan pada 16 September 2026 mengungkap lebih jauh dinamika tersebut. Dalam publikasi berjudul NASA Watches Earth’s Weight, Finds Center of Mass, para ilmuwan menjelaskan bahwa perpindahan massa air dan atmosfer dapat menyebabkan posisi pusat massa Bumi bergeser dari pusat geometrisnya.
Penelitian yang dipimpin ilmuwan NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL) itu menunjukkan bahwa pergeseran pusat massa terjadi mengikuti perubahan musim. Besarnya pergerakan tersebut dapat mencapai beberapa milimeter.
Temuan ini memperlihatkan bahwa Bumi bukanlah benda yang sepenuhnya statis. Distribusi massa di planet ini terus mengalami penyesuaian akibat berbagai proses lingkungan, geologi, dan perubahan iklim.
Pusat Massa Bumi Bergeser Mengikuti Perubahan Musim
Dalam penelitian tersebut, NASA mengembangkan metode pengukuran dengan memanfaatkan teknologi pelacakan satelit berpresisi tinggi. Sistem ini mengintegrasikan data GPS, pengamatan orbit sejumlah satelit, serta pengukuran pergerakan kerak Bumi.
Melalui pendekatan tersebut, para ilmuwan dapat mengamati bagaimana perubahan distribusi air di daratan, lautan, dan atmosfer memengaruhi posisi pusat massa planet.
Salah satu fenomena yang diamati terjadi pada Maret. Pada periode tersebut, akumulasi salju di kawasan Amerika Utara dan Eurasia mencapai tingkat maksimum. Penambahan massa salju itu menyebabkan pusat massa Bumi bergeser sekitar 3 milimeter ke arah Kutub Utara.
Perubahan berbeda teramati pada April. Peningkatan massa air hujan di wilayah Cekungan Amazon mencapai sekitar 2.400 gigaton. Kondisi tersebut mendorong pergeseran pusat massa sekitar 2,2 milimeter ke arah Amerika Selatan.
Dinamika serupa juga berlangsung di kawasan Asia Tenggara. NASA mencatat massa air akibat aktivitas monsun di wilayah tersebut mencapai sekitar 600 gigaton pada November.
Perubahan tersebut bukan sekadar fenomena yang menarik untuk diteliti. Informasi mengenai posisi pusat massa Bumi memiliki peran penting dalam berbagai aplikasi ilmiah dan teknologi, termasuk navigasi satelit, pemetaan, serta pengukuran elevasi yang membutuhkan tingkat ketelitian tinggi.
Bumi Bukan Bola yang Sempurna
Selain mengalami perubahan distribusi massa, bentuk Bumi sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya bulat. Gambaran Bumi sebagai bola merupakan penyederhanaan untuk menjelaskan bentuk planet ini.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), lembaga Amerika Serikat yang menangani informasi kelautan dan atmosfer, menjelaskan bahwa bentuk Bumi lebih tepat disebut oblate spheroid.
Istilah tersebut merujuk pada bentuk menyerupai bola yang sedikit pepat di bagian kutub dan menggembung di sekitar garis khatulistiwa.
Kondisi ini berkaitan dengan rotasi Bumi. Perputaran planet pada porosnya menghasilkan efek sentrifugal yang menyebabkan diameter di wilayah khatulistiwa lebih besar dibandingkan diameter yang diukur melalui kedua kutub.
Namun, bentuk oblate spheroid juga belum sepenuhnya menggambarkan kompleksitas permukaan Bumi. Keberadaan pegunungan, palung laut, variasi gravitasi, serta perubahan permukaan daratan membuat bentuk fisik planet ini jauh lebih rumit.
Dalam bidang geodesi, para ilmuwan menggunakan istilah geoid untuk menjelaskan permukaan ekuipotensial gravitasi yang berkaitan dengan permukaan laut rata-rata global.
Pergerakan Lempeng dan Aktivitas Vulkanik Ikut Mengubah Bumi
NOAA menjelaskan bahwa perubahan bentuk Bumi berlangsung melalui berbagai mekanisme alam. Sebagian terjadi secara perlahan, seperti pergerakan lempeng tektonik dan penyesuaian kerak setelah lapisan es mencair.
Di sisi lain, perubahan juga dapat berlangsung secara tiba-tiba akibat aktivitas geologi, termasuk gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Proses-proses tersebut menunjukkan bahwa permukaan Bumi senantiasa mengalami perubahan, baik dalam skala kecil maupun besar, bergantung pada mekanisme alam yang bekerja.
Pencairan Es Kutub Memengaruhi Distribusi Massa Bumi
Salah satu faktor yang turut memengaruhi dinamika fisik Bumi adalah mencairnya lapisan es di wilayah kutub.
Greenland dan Antarktika menyimpan cadangan air dalam bentuk lapisan es dengan massa yang sangat besar. Ketika es di daratan mencair, air tersebut mengalir menuju lautan dan mengubah distribusi massa di permukaan planet.
Perubahan ini dapat dipantau melalui teknologi satelit GRACE dan GRACE-FO yang dikembangkan melalui kerja sama NASA dengan German Research Centre for Geosciences (GFZ).
Kedua misi satelit tersebut memungkinkan para ilmuwan mengamati perubahan medan gravitasi Bumi yang berkaitan dengan perpindahan massa, termasuk perubahan cadangan air dan kehilangan massa es.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kenaikan permukaan laut. Perubahan distribusi massa juga dapat memengaruhi medan gravitasi, posisi pusat massa, hingga dinamika rotasi Bumi.
Perubahan Iklim Berkaitan dengan Pergeseran Sumbu Rotasi
NASA sebelumnya juga menerbitkan penelitian pada 19 Juli 2024 yang membahas hubungan antara perubahan iklim dan pergerakan sumbu rotasi Bumi.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menjelaskan bahwa pencairan lapisan es, berkurangnya cadangan air tanah, serta perubahan permukaan laut turut berkontribusi terhadap fenomena yang dikenal sebagai polar motion.
Berdasarkan analisis data selama lebih dari 120 tahun, para peneliti menemukan bahwa posisi sumbu rotasi Bumi telah bergeser sekitar 10 meter sepanjang periode 1900–2023.
Meski demikian, temuan tersebut tidak menunjukkan bahwa Bumi sedang mengalami pembalikan kutub secara mendadak.
Pergeseran yang dimaksud merupakan perubahan posisi sumbu rotasi terhadap permukaan dan sistem koordinat geografis Bumi. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika planet yang dapat dipengaruhi oleh perubahan distribusi massa.
Perubahan Massa Bumi Juga Memengaruhi Kecepatan Rotasi
Selain memengaruhi posisi pusat massa dan sumbu rotasi, perpindahan massa air serta es juga berkaitan dengan perubahan kecepatan rotasi Bumi.
NASA menjelaskan bahwa perubahan distribusi massa dapat memengaruhi momen inersia, yakni besaran fisika yang berkaitan dengan respons suatu benda terhadap perubahan gerak rotasinya.
Ketika distribusi massa Bumi berubah, kecepatan planet dalam berputar pada porosnya juga dapat mengalami penyesuaian. Dampaknya dapat terlihat pada perubahan panjang satu hari.
Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2024, para ilmuwan memperkirakan bahwa kontribusi perubahan iklim akibat pencairan es dan perubahan air tanah terhadap pertambahan panjang hari mencapai sekitar 1,33 milidetik per abad untuk periode 2000–2018.
Angka tersebut memang sangat kecil dan tidak dapat dirasakan dalam aktivitas sehari-hari. Namun, perubahan dalam skala milidetik tetap menjadi perhatian penting bagi pengukuran waktu berpresisi tinggi, navigasi satelit, dan berbagai kebutuhan penelitian ilmiah.
Apakah Bumi Sedang Mengalami Perubahan Bentuk Drastis?
Berbagai hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa perubahan fisik Bumi merupakan fenomena nyata yang dapat diamati dan diukur menggunakan teknologi ilmiah.
Namun, temuan mengenai pergeseran pusat massa beberapa milimeter, perubahan posisi sumbu rotasi, maupun perubahan permukaan akibat pencairan es perlu dipahami secara proporsional.
Fenomena tersebut tidak berarti Bumi sedang kehilangan bentuk dasarnya atau berubah menjadi planet dengan karakteristik yang sepenuhnya berbeda.
Hingga saat ini, tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa Bumi sedang mengalami perubahan bentuk secara drastis hingga tidak lagi menyerupai sferoid pepat.
Sebaliknya, penelitian NASA dan NOAA memperlihatkan bahwa berbagai perubahan tersebut merupakan bagian dari dinamika alami planet. Proses geologi, pergerakan air, rotasi, serta perubahan iklim menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi fisiknya.
Kemajuan teknologi pengamatan satelit juga memungkinkan para ilmuwan memantau perubahan tersebut dengan tingkat ketelitian yang semakin tinggi.
Dengan demikian, Bumi dapat dipahami sebagai sebuah sistem dinamis yang terus mengalami penyesuaian. Bentuk, gravitasi, distribusi massa, dan orientasinya tidak sepenuhnya tetap, meskipun sebagian besar perubahan berlangsung dalam skala sangat kecil dan tidak dapat dirasakan secara langsung oleh manusia.** (tds)











