Sosial

Menjemput Asa di Tanah yang Terluka: Mengubah Air Mata Sukabumi Menjadi Berkah Lewat SCG Mentari

×

Menjemput Asa di Tanah yang Terluka: Mengubah Air Mata Sukabumi Menjadi Berkah Lewat SCG Mentari

Sebarkan artikel ini
IMG 20260518 WA0036
Foto Istimewa: Pimpinan PT Semen Jawa Group (SCG) beserta Tim SCG Mentari Waste Station Saat membangun 4 SCG Mentari Waste Station di Desa Kebonmanggu, Wangunreja, dan Sukamaj di wilayah Kabupaten Sukabumi, Rabu (6/6/2026).

PenaKu.ID – Di balik rimbunnya alam Sukabumi, tersimpan sebuah luka yang perlahan menganga: persoalan sampah yang tak kunjung usai. Setiap hari, bumi menampung sisa-sisa konsumsi manusia, mengotori tanah, dan mengancam masa depan generasi mendatang. Bergerak dari kepedihan lingkungan ini, SCG melalui anak perusahaannya, PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, mengulurkan tangan untuk menyembuhkan bumi yang kian terbebani.

Demi memutus rantai kepedihan tersebut, produsen Semen SCG ini membangun 4 SCG Mentari Waste Station di Desa Kebonmanggu, Wangunreja, dan Sukamaju. 

Tak hanya bangunan fisik, SCG juga menyerahkan 1 unit mobil pick-up operasional serta membagikan 5.000 karung pemilah sampah kepada warga. Bak pengumpul sampah organik pun turut dibangun di Desa Kebonmanggu dan Sirnaresmi. Langkah ini diambil bukan sekadar sebagai program korporat, melainkan sebuah ikhtiar mendesak untuk memulihkan kebersihan, menjaga kelestarian alam yang kian rapuh, dan mengangkat kesejahteraan masyarakat.

“Sejalan dengan prinsip ‘Inclusive Green Growth’, melalui SCG Mentari, kami ingin mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sekaligus menciptakan sistem waste management berbasis komunitas yang berkelanjutan,” ujar Peramas Wajananawat, Presiden Direktur PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi dalam keterangannya kepada awak media Rabu (6/5/2026).

Mengubah Sampah Menjadi Nafas Baru

Kehadiran SCG Mentari Waste Station menjadi oase di tengah ancaman krisis lingkungan di Kabupaten Sukabumi. Fasilitas ini dirancang untuk merawat bumi secara terpadu, mulai dari hulu hingga ke hilir—dari pengumpulan, pemilahan, hingga pendistribusian ke pabrik PT Semen Jawa untuk dilebur menjadi bahan bakar alternatif.

Distribusi 5.000 karung ke rumah-rumah warga menjadi simbol bahwa penyelamatan bumi harus dimulai dari ruang paling personal: keluarga. Sementara itu, kehadiran mobil pick-up mempercepat evakuasi sampah agar tak lagi menumpuk dan mencemari pemukiman. Melalui bak sampah komunal yang dikelola oleh SCG Mentari Warrior, sampah organik masyarakat kini tak lagi dibiarkan membusuk menjadi sumber penyakit, melainkan dikelola demi keberlanjutan alam.

Seni yang Mengetuk Nurani

Ada yang berbeda dari cara SCG menyuarakan jeritan bumi. Agar pesan kepedulian ini meresap ke dalam sanubari, SCG menggandeng seniman lokal Sukabumi, Edwin Do. Di tangan Edwin, dinding-dinding tempat pembuangan sampah yang biasanya kumuh dan dihindari, disulap menjadi artwork visual yang ceria dan penuh estetika.

Lukisan-lukisan tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan sebuah refleksi filosofis tentang siklus hidup. Seni ini berbisik kepada setiap orang yang datang: sampah bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah perubahan menuju gaya hidup zero waste. Pendekatan kreatif ini sukses mengubah sudut pandang masyarakat, memicu kesadaran bahwa menjaga bumi bisa dimulai dengan langkah kecil yang indah.

“Kami melihat langsung perubahan di masyarakat sejak SCG Mentari berjalan. Warga kini lebih aktif memilah dan mengelola sampah. Dukungan fasilitas dari SCG membuat kami semakin percaya diri untuk menjalankan pengelolaan sampah secara mandiri, dan kami bangga bisa menjadi bagian dari perubahan ini,” ungkap Hadi Permana, Ketua SCG Warrior Mentari dengan nada optimis.

Angka yang Berbicara, Bumi yang Bernafas

Sejak digulirkan pada tahun 2024, program SCG Mentari telah berhasil menyelamatkan tanah Sukabumi dari kepungan lebih dari 11 ton sampah, dengan rata-rata penyelamatan mencapai 2 ton sampah setiap bulannya.

Lebih dari 1.000 warga dari lima desa di Kabupaten Sukabumi kini telah mengorganisasi diri, bahu-bahu membahu mengubah perihnya masalah polusi menjadi budaya pelestarian alam. Mereka membuktikan bahwa jika manusia mau peduli, alam pun akan kembali berseri.

Seluruh jerih payah ini bersandar pada prinsip “Inclusive Green Growth”. Ini adalah komitmen jangka panjang SCG dalam mewujudkan Low Carbon Society demi mengejar target Net Zero 2050. Melalui kolaborasi yang menyentuh akar rumput ini, SCG tidak hanya sedang membersihkan sampah, tetapi sedang merajut kembali senyuman alam Sukabumi yang sempat meredup.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *