PenaKu.ID – Cina tampaknya sedang memainkan ritme diplomasi ekonomi yang sangat agresif. Sejak pertemuan puncak AS-Cina terakhir pada Oktober lalu, Beijing terpantau sangat sibuk memperluas jejaring pasarnya ke berbagai belahan dunia.
Langkah ini dinilai banyak analis sebagai upaya untuk memposisikan diri sebagai mitra dagang yang “ramah,” kontras dengan citra Amerika Serikat yang belakangan gencar menjatuhkan sanksi ekonomi.
Gebrakan Beijing di Asia dan Amerika Utara
Memasuki Januari, Cina dan Korea Selatan resmi menandatangani sejumlah kontrak ekspor besar. Kerja sama ini mencakup penguatan sektor teknologi, perdagangan, hingga transportasi antar kedua negara. Menariknya, Cina juga berhasil mencairkan hubungan dengan Kanada.
Di tengah tekanan tarif dari Washington, Beijing dan Ottawa justru sepakat untuk saling menurunkan bea masuk, sebuah terobosan signifikan setelah hubungan keduanya sempat mendingin selama bertahun-tahun.
Dominasi Beijing di Afrika dan Diplomasi Ekonomi
Langkah paling berani terjadi pada Mei, di mana Cina menghapuskan tarif bagi sebagian besar negara di benua Afrika. Strategi ini memperdalam penetrasi Beijing di pasar berkembang sekaligus memperkuat narasi bahwa Cina adalah sekutu ekonomi yang lebih menguntungkan.
Melalui serangkaian kesepakatan ini, Beijing tidak hanya mengamankan pasokan komoditas, tetapi juga membangun loyalitas geopolitik yang sulit ditembus oleh negara-negara Barat.**








