PenaKu.ID – Harga minyak mentah dunia kembali terombang-ambing oleh dinamika politik di Washington. Awalnya, pasar merespons positif pengumuman Donald Trump yang menangguhkan “Project Freedom”, sebuah inisiatif pengamanan jalur logistik di Selat Hormuz.
Keputusan ini dianggap sebagai langkah konkret menuju pencapaian “Complete and Final Agreement” dengan pihak Iran. Sayangnya, stabilitas pasar ini langsung diuji oleh pernyataan kontradiktif dari sang Presiden sendiri dalam waktu yang sangat singkat.
Harapan Memorandum Damai di Selat Hormuz
Spekulasi mengenai berakhirnya konflik di Teluk menguat setelah media AS melaporkan adanya draf memorandum satu halaman yang sedang difinalisasi. Seorang sumber mediator di Pakistan bahkan meyakini bahwa kesepakatan akan segera ditutup.
Pada Rabu, Iran mengonfirmasi tengah mempelajari proposal terbaru tersebut. Hal ini sejalan dengan pernyataan Marco Rubio yang mengisyaratkan penghentian serangan militer AS di bawah kendali Operation Epic Fury, memberikan harapan besar bagi industri energi global.
Ketidakpastian Global di Tengah Ancaman Serangan Selat Hormuz
Namun, optimisme tersebut langsung diredam oleh retorika terbaru Trump pada Rabu pagi. Ia menegaskan bahwa tanpa kesepakatan yang ditandatangani, kekuatan militer AS akan dikerahkan lebih dahsyat dari sebelumnya.
Ancaman ini menciptakan awan mendung bagi keamanan maritim di Selat Hormuz, mengingat posisi strategis wilayah tersebut bagi distribusi energi dunia. Perubahan sikap yang impulsif ini membuktikan bahwa jalur diplomasi AS-Iran masih berada di titik yang sangat rapuh.**







