Ragam

Satu Meja, Seribu Maaf: Kala Opor Ayam Mencairkan Sekat di Sekolah Sukabumi

×

Satu Meja, Seribu Maaf: Kala Opor Ayam Mencairkan Sekat di Sekolah Sukabumi

Sebarkan artikel ini
Satu Meja, Seribu Maaf: Kala Opor Ayam Mencairkan Sekat di Sekolah Sukabumi
Foto Istimewa: Siswa SMAN 2 Kota Sukabumi Saat Mengikuti Program MBG Ala Parasmanan SPPG Karamat Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Selasa (31/3/2026).

PenaKu.ID – Aroma gurih santan dan tawa renyah siswa menyeruak di antara selasar kelas, mengalahkan dinginnya udara pagi Kota Sukabumi Jawa Barat. Di balik gerbang SMA Negeri 2 dan SMP Negeri 4, rutinitas buku dan pena sejenak menepi, berganti dengan denting sendok pada ompreng yang berjajar rapi. Ini bukan sekadar makan siang biasa, melainkan sebuah ritual “basuh hati” yang dikemas dalam jamuan prasmanan pasca-Lebaran 1447 H.

Menembus Sekat di Meja Panjang SMAN 2 Kota Sukabumi

Pemandangan di SMA Negeri 2 Kota Sukabumi tampak begitu cair. Sebanyak 1.440 siswa dan 90 guru melebur menjadi satu. Tidak ada meja khusus guru atau area terbatas bagi murid; semuanya duduk bersisian, menghadapi deretan hidangan yang sama.

Di sudut lain, keceriaan serupa terpancar dari wajah 932 siswa dan 49 guru SMP Negeri 4 Kota Sukabumi. Ribuan porsi makanan disiapkan, namun bukan kemewahannya yang dikejar, melainkan rasa kebersamaan yang disajikan di atas wadah sederhana.

“Kami ingin menciptakan momen yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar menyentuh aspek kekeluargaan,” kata Muhamad Maulana Aziz, Asisten Lapangan (Aslap) SPPG Keramat Gunungpuyuh Kota Sukabumi kepada awak media, Selasa (31/3/2026).

Menu Lebaran dan Filosofi Ompreng di Kota Sukabumi

Menu yang disajikan seolah memindahkan kehangatan meja makan rumah ke sekolah. Lontong dengan kuah opor ayam yang kental, berpadu dengan kentang goreng dan sayuran segar, menjadi primadona siang itu. Sebagai penutup, pisang Cavendish tersedia sebagai pencuci mulut yang sehat.

Penggunaan ompreng atau wadah makan bersekat menjadi simbol yang kuat. Selain praktis, ompreng adalah lambang kesetaraan bahwa di hari yang fitri ini, apa yang dinikmati sang guru adalah apa yang disantap oleh sang murid.

Merawat Harmoni, Memulai Energi Baru

Bagi Aziz dan seluruh civitas akademika, agenda ini adalah cara paling efektif untuk “mencairkan es” setelah libur panjang. Setelah tangan saling bertaut memohon maaf, keakraban itu dipererat melalui tradisi makan bersama.

“Setelah saling bermaaf-maafan, semuanya langsung makan bersama. Ini adalah cara kami merawat harmoni di sekolah,” tambah Aziz.

Momen ini bukan sekadar tentang mengenyangkan perut. Ia adalah ritual penguatan solidaritas. Di balik suapan opor dan obrolan ringan di sela makan, tersimpan harapan agar semangat Idul Fitri menjadi bahan bakar baru bagi seluruh warga sekolah untuk kembali beraktivitas dengan hati yang lebih solid.**