PenaKu.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali melakukan observasi mendalam terhadap literatur klasik Nusantara. Objek penelitian kali ini berfokus pada Kitab Patambaan Siliwangi, sebuah manuskrip koleksi Museum Prabu Siliwangi, Kota Sukabumi, yang menyimpan kodifikasi pengetahuan medis tradisional.
Penelitian yang memasuki fase keenam ini merupakan kelanjutan dari tahap identifikasi dan inventarisasi yang telah dilakukan pada tahun 2025. Peneliti dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus perwakilan BRIN, Ilham Nurwansah, menjelaskan bahwa naskah ini merupakan dokumentasi pengalaman empiris kolektif masyarakat masa lalu dalam menghadapi berbagai gangguan kesehatan.
Tinjauan Kodikologi dan Linguistik
Berdasarkan analisis fisik atau kodikologi, manuskrip setebal 148 halaman ini menggunakan media kertas yang lazim ditemukan pada kurun waktu akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 (sekitar tahun 1800-an akhir hingga 1900-an awal).
“Secara linguistik, teks ini disusun menggunakan aksara dan bahasa Jawa Cirebonan. Terdapat karakteristik unik berupa asimilasi kosakata Sunda di dalamnya, yang menunjukkan adanya interaksi budaya dan pertukaran pengetahuan di wilayah Jawa bagian barat pada masa itu,” ujar Ilham Nurwansah dalam keterangannya kepada awak media, Jumat (17/4/2026).
Kompleksitas Isi: Dari Etnobotani hingga Astrologi
Secara etimologis, Patambaan berakar dari kata “tamba” yang berarti obat. Namun, isi naskah ini jauh lebih kompleks daripada sekadar daftar resep. Peneliti menemukan adanya keterkaitan antara pengobatan fisik dengan variabel metafisik, seperti:
Etnobotani: Identifikasi 28 jenis tanaman obat, termasuk penggunaan daun sirih dan mengkudu untuk sefalalgia (sakit kepala).

Kronobiologi Tradisional
Perhitungan hari lahir dan kalender (lintang/perbintangan) yang digunakan untuk menentukan waktu pengobatan yang optimal. Sosio-kultural: Informasi mengenai hari baik, hari nahas, hingga metode pencarian barang hilang yang mencerminkan pandangan dunia (worldview) masyarakat pada masanya.
Urgensi Validasi Ilmiah dan Pelestarian
Meskipun naskah ini telah menjadi rujukan praktis selama lebih dari 30 tahun oleh KH Fajar Laksana dalam metode Etnofarmaka Al Fath, BRIN menekankan pentingnya hilirisasi riset melalui uji laboratorium. Proporsi Khasiat=UjiKlinisMedisDataEmpirisManuskrip​
Ilham menegaskan bahwa kandungan kimiawi dari tanaman yang disebutkan termasuk spesies yang kini mulai langka seperti pohon Loa dan Lame perlu diperiksa secara medis untuk memastikan efikasi dan keamanannya di masa modern.

Menuju Warisan Budaya Takbenda (WBTb)
Pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH Fajar Laksana, berharap kolaborasi riset dengan BRIN ini dapat memperkuat posisi Kitab Patambaan Siliwangi sebagai aset intelektual daerah.
Tujuannya adalah mengeskalasi status pengetahuan tradisional ini menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) tingkat nasional. Hal ini diharapkan tidak hanya melestarikan teks secara fisik, tetapi juga melindungi ilmu pengetahuan lokal (local wisdom) yang terkandung di dalamnya sebagai identitas medis khas Kota Sukabumi.
***





