PenaKu.ID – Kebijakan luar negeri Amerika Serikat mendadak berbalik arah secara drastis di bawah komando Presiden Donald Trump. Di tengah eskalasi konflik yang memanas, Washington secara resmi mengumumkan pelonggaran sanksi terbatas terhadap minyak Iran yang selama ini tertahan di lautan.
Langkah “aneh” ini diambil sebagai upaya darurat untuk menstabilkan pasokan energi dunia yang terguncang akibat perang.
Manuver Balik Arah Treasury AS dan Dampak Pasar bagi Trump
Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa otoritas jangka pendek ini mengizinkan penjualan sekitar 140 juta barel minyak mentah asal Iran yang saat ini terdampar di kapal-kapal tanker.
Langkah ini berlaku hingga 19 April 2026, dengan target mengalihkan pasokan yang biasanya dibeli China dengan harga diskon ke negara lain seperti India, Jepang, dan Malaysia. Meski bertujuan menekan harga, para pakar menilai efektivitasnya masih sangat terbatas mengingat besarnya guncangan suplai global.
Kritik Pedas dan Dilema Pendanaan Perang Trump
Keputusan ini memicu kontroversi hebat karena dianggap bisa menjadi “senjata makan tuan”. Dengan mengizinkan penjualan minyak, AS secara tidak langsung membuka keran dana yang bisa digunakan rezim Iran untuk membiayai kebutuhan militer mereka.
Donald Trump sendiri menegaskan tidak ada gencatan senjata dalam kamus politiknya saat ini, namun ia bersikeras akan melakukan apa pun yang diperlukan guna menjaga stabilitas harga energi bagi warga Amerika.**









