PenaKu.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, meningkatkan pemantauan kualitas udara menyusul adanya paparan partikulat yang diduga berkaitan dengan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau di sejumlah wilayah.
Berdasarkan hasil pemantauan Air Quality Monitoring System (AQMS), konsentrasi partikulat PM2,5 mulai menunjukkan penurunan pada Rabu, 9 September 2026.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH KBB, Gentarez Wara Nainggolan, mengatakan konsentrasi PM2,5 yang terpantau pada Rabu pagi mengalami penurunan dibandingkan hari sebelumnya.
Pada pukul 03.00 WIB, konsentrasi PM2,5 tercatat berada di angka 64. Kemudian, pada pukul 09.00 WIB, angkanya turun menjadi 60.
“Per hari ini kita pantau di pukul 03.00 WIB dini hari untuk partikulat PM2,5 masih di angka 64 dan Alhamdulillah di jam 09.00 mengalami penurunan 4 persen di angka 60,” kata Gentarez saat ditemui, Rabu, 9 September 2026.
Konsentrasi PM2,5 Mulai Menurun di Bandung Barat
Gentarez menjelaskan, sehari sebelumnya, Selasa, 8 September 2026, konsentrasi partikulat sempat mencapai angka 65. Namun, kondisi tersebut mulai menunjukkan tren penurunan pada Rabu pagi.
“Di hari Selasa kemarin sempat tertinggi di angka 65. Dari angka tersebut mulai menurun atau landai per hari ini. Kita berharap, mohon doa untuk semua, semoga kondisi udara terus membaik,” ujarnya.
Pemantauan kualitas udara dilakukan secara real-time melalui stasiun AQMS yang berada di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.
Stasiun tersebut digunakan DLH KBB untuk memantau sejumlah parameter kualitas udara secara berkala dan real-time.
Sejumlah Parameter Udara di Bandung Barat Dipantau
Parameter yang dipantau mencakup PM2,5, PM10, sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2), hingga hidrokarbon (HC).
DLH KBB memberikan perhatian khusus terhadap konsentrasi PM2,5 dan PM10 setelah masyarakat di sejumlah wilayah melaporkan adanya debu yang menempel di halaman rumah maupun berbagai permukaan di lingkungan sekitar.
Berdasarkan pengamatan visual, partikulat yang ditemukan masyarakat berwarna cokelat muda hingga keabu-abuan. Karakteristik tersebut dinilai memiliki kecenderungan berbeda dari debu yang umumnya muncul akibat aktivitas kendaraan maupun jalan.
Meski demikian, DLH KBB belum dapat memastikan secara ilmiah bahwa partikulat tersebut sepenuhnya berasal dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
“Untuk memastikan apakah partikulat tersebut berasal dari abu vulkanik atau bukan, tentunya masih diperlukan pengujian lebih lanjut di laboratorium,” kata Gentarez.
DLH Bandung Barat Tingkatkan Pengawasan Kualitas Udara
Sebelumnya, hasil pemantauan hingga Senin, 7 September 2026 pukul 11.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2,5 berada di kisaran 40 mikrogram per meter kubik dan masih masuk kategori baik.
Setelah terjadi peningkatan konsentrasi partikulat PM2,5 dan PM10, DLH KBB kemudian meningkatkan pengawasan terhadap kondisi kualitas udara di wilayah Bandung Barat.
Peningkatan tersebut menjadi perhatian karena warga di sejumlah wilayah mulai melaporkan adanya debu yang menumpuk di sekitar rumah.
Meski kondisi partikulat mengalami peningkatan, DLH KBB mengimbau masyarakat agar tidak panik. Warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.
Warga Diimbau Menggunakan Masker
Gentarez menyarankan masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan sebagai langkah sederhana untuk mengurangi paparan partikulat.
“Kepada masyarakat semua untuk tidak panik akan tetapi terus waspada. Sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kita sudah antisipasi. Dengan penanganan sederhana memakai masker ketika beraktivitas di luar ruangan,” ungkapnya.
DLH KBB memastikan pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi udara di Bandung Barat.
Masyarakat juga diminta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kualitas udara dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Hingga Rabu, 9 September 2026, hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2,5 mulai menurun dibandingkan kondisi sehari sebelumnya. DLH berharap tren tersebut terus berlanjut sehingga kondisi udara membaik dan aktivitas masyarakat dapat kembali berlangsung normal.**
