PenaKu.ID – Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Oman kembali meningkat dan memicu kekhawatiran internasional terhadap stabilitas pasokan energi global. Situasi memanas setelah Iran memperluas kontrol maritimnya di jalur pelayaran strategis yang menjadi akses utama menuju Selat Hormuz.
Teluk Oman tersebut memiliki peran vital bagi perdagangan internasional karena menjadi jalur distribusi utama minyak dan gas dari Timur Tengah menuju Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat. Gangguan keamanan sekecil apa pun di kawasan itu dinilai dapat memengaruhi pasar energi dunia.
Reuters melaporkan Iran kini mendefinisikan wilayah operasi Selat Hormuz dengan cakupan yang lebih luas dibanding sebelumnya. Area pengawasan maritim Iran disebut membentang dari Jask hingga Pulau Siri dan mencakup sebagian besar jalur pelayaran strategis di sekitar Teluk Oman.
Kondisi itu memicu kekhawatiran banyak negara mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melintasi kawasan tersebut setiap hari.
Dalam perkembangan terbaru, Iran meminta seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz untuk berkoordinasi dengan angkatan lautnya. Pernyataan itu muncul setelah sejumlah insiden penyitaan kapal dan gangguan keamanan terjadi di sekitar perairan Oman dan Uni Emirat Arab.
Selain meningkatnya patroli militer, sejumlah laporan internasional menyebut kapal dagang dan tanker minyak kini menghadapi risiko keamanan yang lebih tinggi saat melintasi Teluk Oman. Situasi tersebut turut mendorong kenaikan biaya pengiriman dan premi asuransi kapal.
Iran memiliki posisi strategis karena menguasai sisi utara Selat Hormuz yang terhubung langsung dengan Teluk Oman. Letak geografis itu memberi Teheran pengaruh besar terhadap lalu lintas kapal internasional dan distribusi energi dari kawasan Teluk.
Iran Jadikan Teluk Oman Alat Tawar
Bagi Iran, Teluk Oman bukan sekadar jalur perdagangan internasional, melainkan bagian penting dari strategi pertahanan sekaligus instrumen tekanan geopolitik terhadap negara-negara Barat. Sejumlah pelabuhan utama Iran, termasuk Bandar Abbas dan Jask, berada di jalur yang terhubung langsung dengan kawasan tersebut.
Reuters juga melaporkan Iran mulai memanfaatkan pengaruhnya di wilayah itu sebagai alat tawar dalam konflik regional dan negosiasi internasional, terutama terkait sanksi ekonomi serta program nuklirnya.
Di tengah situasi yang semakin sensitif, Oman berada pada posisi yang tidak mudah. Selama ini, negara tersebut dikenal sebagai mediator antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk dalam pembicaraan mengenai program nuklir Iran.
Namun belakangan, Oman ikut terseret dalam dinamika konflik setelah Iran mengklaim adanya koordinasi bersama terkait pengelolaan Selat Hormuz dan keamanan pelayaran di kawasan tersebut.
Pengamat internasional menilai meningkatnya ketegangan di Teluk Oman dapat berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global. Jika situasi terus memburuk, distribusi minyak dunia berisiko terganggu dan harga energi dapat melonjak signifikan.
Sejumlah negara Asia seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan disebut menjadi pihak paling rentan terdampak karena ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi yang melewati Teluk Oman dan Selat Hormuz.
Hingga kini, komunitas internasional masih terus mendorong jalur diplomasi guna mencegah ketegangan berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.** (tds)
