Spanduk ‘Orang Tua Menjerit Kampus Mencekik’ Warnai Aksi Demo Mahasiswa

Spanduk bertuliskan orang tua menjerit kampus mencekik terpampang di gedung stie inaba kota bandung, Sabtu 27/6/20. Foto (dp)

PenaKu.ID – Aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa STIE INABA Kota Bandung diwarnai dengan berbagai orasi dan tulisan spanduk yang dibawa mahasiswa pada saat berunjuk rasa, Sabtu (27/6/20).

Salah satu spanduk menjadi sorotan awak media di lapangan yang dikibarkan di atas gedung kampus STIE INABA, tulisan tersebut memuat orasi ‘Orang Tua Menjerit Kampus Mencekik’.

Aksi mahasiswa terbut yaitu meminta kepada pihak kampus agar memberikan pemotongan biaya sebesar 50% dan subsidi kuota dari kampus.

“Bukan malah memberi 5% di semester ganjil nanti. Karena kami membutuhkan sekarang bukan nanti,” ujar Bemo, salah seorang mahasiswa kepada awak media di lokasi.

Ia menuturkan agar pihak kampus bisa menemui mereka dan melakukan dialog terkait tuntutan-tuntutan mereka.

“Kami menginginkan disini adanya petinggi kampus yang menemui kami agar menemui titik terang. Agar berdialog, berdiskusi,” pinta Bemo.

Tak lama berselang seteleh para mahasiswa menunggu di halaman kampus tersebut, para perwakilan kampus STIE INABA pun menemui para mahasiswa untuk menampung aspirasinya.

Dari serangkaian tuntutan mahasiswa pada saat itu perwakilan kampus, Yusup sebagai Rektor III menjelaskan subsidi yang dipinta mahasiswa sebesar 50% tersebut sudah dilakukan alokasi dan memperhitungkan dengan kuota.

“Jika memang itu merasa terdampak Covid-19, ya mungkin bisa dibebaskan,” kata Yusuf

Sontak jawaban Yusuf tersebut mendapatkan respon dari para mahasiswa yang meyanggah pernyataan itu.

“Memang kita semua kaga terdampak Covid gitu pak ?,” cetus salah seorang mahasiswa.

Yusuf lantas menjelaskan bahwa alokasi kuota tersebut telah pihaknya alokasikan 100% kepada sebagian mahasiswa.

“Masa dari perjanjian 100% subsidi yang telah diberikan kepada pihak orang tua mahasiswa harus dibatalkan,” terangnya.

Berkenaan dengan belajar sistem daring yusuf meminta kepada mahasiswa agar bisa menggunakan fasilitas di labfor jika memang mahasiswa ada yang mengalami kendala dengan aplikasi atau pesawat seluler.

“Klo hp tidak mendukung boleh di labfor,” jelas Yusuf.

Kendati sudah ditemui perwakilan pihak kampus, namun rupanya para mahasiswa masih belum puas atas jawaban dari Yusuf tersebut.
Para mahasiswa meminta agar dihadirkan ketua yayasan.

Menurut info dari salah satu anggota BEM bahwa mereka bakal menggelar aksi serupa hingga ketua yayasan bisa diajak berdialog langsung.

“Kami minta hadirkan ketua yayasan,” ujar salah seorang anggota BEM sambil mereka membubarkan diri.



Reporter: dp
Penulis: dp


Editor: Js

Leave a Reply

Your email address will not be published.