PenaKu.ID – Nilai tukar rupiah Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan hingga perdagangan sore, Kamis (28/5/2026). Mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS setelah dalam beberapa pekan terakhir sempat mencatat level terlemah sepanjang sejarah.
Mengacu pada data kurs referensi Bank Indonesia (BI), kurs transaksi BI menempatkan dolar AS di level Rp17.584,63 untuk kurs beli dan Rp17.761,37 untuk kurs jual. Sementara itu, kurs e-rate sejumlah perbankan nasional seperti BCA menunjukkan posisi dolar AS berada di kisaran Rp17.730 sampai Rp17.850 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah Indonesia dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi global, penguatan dolar AS masih berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik serta kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut mendorong investor global memburu aset aman berbasis dolar AS.
Di dalam negeri, permintaan terhadap dolar AS juga mengalami peningkatan. Kebutuhan pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan, hingga kebutuhan musiman menjelang musim haji turut memperbesar tekanan di pasar valuta asing domestik.
Sebelumnya, Bank Indonesia telah merespons pelemahan rupiah dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus meredam tekanan inflasi akibat gejolak ekonomi global.
Upaya Stabilisasi Rupiah Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan arah kebijakan moneter saat ini difokuskan pada upaya stabilisasi rupiah di tengah tingginya volatilitas pasar internasional.
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah Indonesia bahkan sempat menyentuh level Rp17.706 hingga Rp17.745 per dolar AS di pasar spot. Posisi itu menjadi titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah Indonesia terhadap dolar AS.
Data Bloomberg serta sejumlah analis pasar menilai pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen konflik di Timur Tengah, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik, dan arus modal asing yang belum kembali stabil.
Meski demikian, sejumlah ekonom menilai peluang stabilisasi rupiah masih terbuka apabila aliran modal asing kembali masuk dan tensi geopolitik global mulai mereda. Pemerintah bersama Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga agar pelemahan rupiah tidak bergerak terlalu tajam.
Pelaku pasar kini menantikan arah kebijakan moneter global, terutama keputusan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve, yang masih menjadi faktor utama penentu pergerakan dolar AS terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.** (tds)










