PenaKu.ID – Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Inggris mencapai titik didih baru setelah Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap Perdana Menteri Keir Starmer.
Melalui platform Truth Social, Trump menuduh Starmer hanya mencoba “ikut campur dalam perang yang sudah dimenangkan” oleh AS. Pernyataan provokatif ini muncul di tengah laporan bahwa kapal induk kebanggaan Inggris, HMS Prince of Wales, telah ditempatkan dalam status siaga tinggi (advanced readiness).
Perselisihan ini bukan sekadar adu mulut di media sosial. Trump secara eksplisit menyatakan bahwa militer AS “tidak membutuhkan” kapal induk Inggris, sebuah pernyataan yang meremehkan aliansi pertahanan bersejarah antara kedua negara.
Ketegangan ini semakin diperumit oleh keputusan Starmer sebelumnya yang memilih untuk tidak bergabung dalam serangan awal AS-Israel terhadap Iran, meskipun Inggris mengizinkan penggunaan pangkalannya di RAF Fairford sebagai titik peluncuran jet pengebom B-1 milik Amerika.
Eskalasi Regional dan Dampak Terhadap Negara Tetangga di Konflik Timur Tengah
Sementara para pemimpin di Barat berdebat tentang strategi, dampak nyata dari konflik ini mulai merembet ke negara-negara Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan kematian seorang warga sipil di Dubai akibat jatuhnya serpihan proyektil dari proses intersepsi udara.
Qatar dan Arab Saudi juga melaporkan adanya serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah mereka, menandakan bahwa zona konflik telah meluas jauh ke luar perbatasan Iran dan Israel.
Diplomasi Timur Tengah di Ambang Kehancuran
Presiden Iran mencoba meredakan situasi dengan menawarkan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga dan berjanji tidak akan menyerang kecuali jika diserang lebih dulu.
Namun, janji ini terasa hambar di tengah peringatan evakuasi massal yang dikeluarkan Israel untuk wilayah pinggiran Beirut. Fokus militer kini bergeser ke arah penghancuran infrastruktur Hizbullah, yang semakin menyeret Lebanon ke dalam jurang kehancuran total.
Situasi ini menempatkan Inggris dalam posisi sulit: antara mempertahankan otonomi kebijakan luar negerinya atau tunduk pada tekanan sekutu terbesarnya di bawah bayang-bayang kepemimpinan Trump yang transaksional.**
