Peristiwa

Ratusan Hektare Sawah di Cianjur Gagal Panen, Apa Penyebabnya?

Ratusan Hektare Sawah di Cianjur Gagal Panen, Apa Penyebabnya?
Ratusan Hektare Sawah di Cianjur Gagal Panen, Apa Penyebabnya?

PenaKu.ID – Ratusan hektare lahan sawah milik petani di Kampung Pasirangin, Babakan Pasirmalaka, Pasirkunci, dan Kampung Pasirsasaungan, Desa Nanggalamekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Bararat, mengalami gagal panen. Tanaman padi rusak akibat terserang penyakit serta serangan ribuan hama burung pipit.

Para petani yang terdampak tergabung dalam Kelompok Tani Anugrah Babakansari Malakasari serta sejumlah kelompok tani lainnya di wilayah tersebut. Berdasarkan informasi yang dihimpun, serangan penyakit yang menyebabkan para petani gagal panen itu mulai terjadi saat tanaman padi berusia sekitar 45 hari setelah tanam atau pascapenyiangan terakhir (ngarambet mindo). Akibatnya, tanaman tumbuh kerdil dan tidak berkembang optimal.

Memasuki usia sekitar 75 hari setelah tanam atau saat padi mulai berbuah, ribuan burung pipit menyerang hamparan sawah secara masif hingga menghabiskan bulir padi. Kondisi ini membuat sebagian besar lahan gagal panen dan tidak menghasilkan panen sama sekali.

Salah seorang petani asal Kampung Pasirangin, Teten (50), mengaku mengalami kerugian besar. Ia mengolah sawah seluas lebih dari satu hektare yang biasanya mampu menghasilkan 7 hingga 8 ton gabah setiap musim panen.

“Saya mengolah sawah lebih dari satu hektare. Biasanya panen bisa dapat 7 sampai 8 ton gabah, tapi sekarang setelah terserang penyakit dan hama burung pipit, tidak satu bulir pun yang didapat,” ujar Teten dengan nada sedih kepada awak media, Sabtu (17/1/26).

Upaya Antisipasi Gagal Panen

Menurutnya, berbagai upaya pencegahan telah dilakukan, mulai dari penyemprotan pestisida hingga perawatan intensif. Namun, serangan burung pipit dalam jumlah besar membuat seluruh usaha tersebut tidak membuahkan hasil.

Ia menambahkan, kondisi serupa juga dialami banyak petani lain. Sebagian petani mencoba menutup tanaman padi dengan jaring untuk menghalau burung, namun hasil panen tetap tidak maksimal.

Sementara itu, Kepala Desa Nanggalamekar, Hilman, S.Kom., membenarkan terjadinya gagal panen di wilayahnya. Ia menyebut ratusan hektare sawah milik petani di sejumlah kampung mengalami kerusakan parah akibat penyakit tanaman dan serangan hama burung.

Menurut Hilman, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah pola tanam yang tidak serempak. Akibatnya, siklus hama tidak terputus dan terus berulang.

“Pola tanam yang tidak serempak membuat siklus hama terus berputar. Seharusnya pola tanam dilakukan bersama-sama agar hama bisa dikendalikan,” ujarnya.

Ia berharap para petani yang terdampak dapat bersabar, serta meminta perhatian dari dinas dan instansi terkait agar segera turun ke lapangan untuk meninjau kondisi sawah dan memberikan solusi konkret bagi para petani.**

Exit mobile version