PSBB Transisi Diperpanjang, Fahira: Tes PCR Harus Ditingkatkan

Anggota dpd ri fahira idris

PenaKu.ID – Terobosan yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan terus meningkatkan kapasitas tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan metode active case finding (tes PCR tidak hanya dilakukan terhadap pasien di rumah sakit atau yang datang ke rumah sakit karena ada keluhan, tetapi Pemprov DKI melalui puskesmas proaktif melakukan tes Covid-19 ke komunitas atau orang yang kemungkinan besar punya potensi tertular) sejalan dengan keputusan perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi selama dua pekan ke depan. Perpanjangan PSBB Transisi akan sangat mendukung kegiatan active case finding sebagai jalan mengendalikan transmisi penyebaran virus.

Anggota DPD RI Fahira Idris mengungkapkan, masa dua pekan kedepan menjadi fase yang sangat penting bagi warga Jakarta untuk bahu membahu dan berkolaborasi mengendalikan pandemi. Caranya sangat sederhana yaitu prioritaskan melakukan aktivitas di rumah dan saat harus keluar rumah patuhi protokol kesehatan. Jika kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan semakin meningkat ditambah kapasitas tes PCR yang juga semakin meningkat maka upaya mengendalikan pandemi di ibu kota bukan sekedar angan-angan tetapi akan mampu menjadi kenyataan.

“Peningkatakan kapasitas tes di Jakarta yang sudah hampir 4 kali lipat standar yang dianjurkan WHO adalah modal utama mengendalikan pandemi ini. Modal itu akan semakin kuat jika ditambah dengan peningkatan disiplin masyarakat mematuhi protokol kesehatan terutama pakai masker, cuci tangan pakai sabun, dan jaga jarak. Alhamdulilah keinginan Jakarta mengendalikan pandemi ini dilakukan dengan cara yang tepat yaitu terus meningkatkan kapasitas tes,” ujar Fahira Idris di Jakarta (31/7).

Menurut Fahira metode active case finding yang dijadikan strategi utama Pemprov DKI Jakarta adalah cara yang paling ilmiah dan efektif untuk mencegah dan mengunci penyebaran virus corona sehingga pandemi ini dapat dikendalikan. Dalam situasi wabah seperti ini, paradigma yang harus dibangun terutama bagi para pengambil kebijakan baik di Pusat maupun daerah adalah siapa saja bisa tertular dan menularkan. Terlebih dalam perkembangannya virus corona ini ternyata tidak menimbulkan gejala di banyak orang. Jika orang-orang tanpa gejala ini tidak ditemukan dan tidak dilakukan tindakan medis maka akan sangat berbahaya karena bisa melahirkan ledakan kasus.  Jika sudah begini sampai kapan pun pandemi ini tidak akan bisa dikendalikan.

“Ingin mengendalikan pandemi dengan jumlah tes yang minim hanya akan menjadi angan-angan karena tidak akan pernah terjadi. Alhamdulilah, Jakarta terus berupaya meningkatkan kapasitas tes dengan proaktif melakukan tes Covid-19 ke komunitas atau orang yang kemungkinan besar punya potensi tertular untuk menemukan orang-orang tanpa gejala yang menjadi salah satu penyumbang kasus positif terbesar. Semakin banyak ditemukan kasus positif dan segera dilakukan tindakan medis maka virus dapat segera dicegah meluas dan pandemi ini dapat dikendalikan,” ujar Senator Jakarta.



(Rm)

Leave a Reply

Your email address will not be published.