PenaKu.ID – Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menjalin kerja sama dengan 86 rumah sakit untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan bagi masyarakat. Melalui kemitraan ini, warga Jawa Barat yang pengobatannya tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan maupun asuransi lain tetap berhak mendapatkan pelayanan medis setara fasilitas kelas 3.
Jaringan kerja sama tersebut mencakup 7 rumah sakit milik Pemprov Jabar serta 79 rumah sakit rujukan nasional, RSUD kabupaten/kota, hingga rumah sakit swasta yang tersebar di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi hambatan birokrasi dan administratif bagi warga yang membutuhkan penanganan medis mendesak.
“Negara harus hadir ketika rakyat mengalami kesusahan. Kita tidak boleh membiarkan rakyat kita dalam keadaan susah, sedangkan kita seolah-olah tidak tahu,” ujar Dedi Mulyadi, Sabtu (10/10/2026).
Selain memperluas akses rujukan, Gubernur yang akrab disapa KDM ini juga meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Barat untuk memperkuat sistem pemantauan di tingkat lokal. Langkah ini bertujuan agar masalah penanganan pasien di lapangan dapat terdeteksi dan ditangani secara cepat tanpa harus menunggu laporan langsung ke tingkat provinsi.
Melalui skema rujukan terintegrasi ini, pasien dari berbagai daerah di Jawa Barat kini dapat mengakses rumah sakit rujukan utama seperti RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RSPAD Gatot Soebroto, RS Kanker Dharmais, hingga RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung.
Daftar Rumah Sakit Mitra Pemprov Jawa Barat:
A. Rumah Sakit Pusat Rujukan & Swasta.
1. RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
2. RSPAD Gatot Soebroto
3. RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita
4. RS Anak dan Bunda Harapan Kita
5. RS Kanker Dharmais
6. RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso
7. RS Mata Cicendo
8. RSJ Dr. H. Marzoeki Mahdi
9. RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung
10. RS Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo
11. RS Paru Dr. H. A. Rotinsulu
12. Santosa Hospital Bandung Central
13. Santosa Hospital Bandung Kopo
14. RS Khusus Ginjal Ny. R.A. Habibie
B. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
1. RSUD Welas Asih Provinsi Jabar
2. RSUD Pameungpeuk Provinsi Jabar
3. RSUD Jampang Kulon Provinsi Jabar
4. RS Jiwa Provinsi Jabar
5. RSUD Kesehatan Kerja Provinsi Jabar
6. RS Daerah Sidawangi Provinsi Jabar
7. RSUD M. A. Sentot Patrol Provinsi Jabar
8. RSUD Oto Iskandar Di Nata
9. RSUD Cicalengka
10. RSUD Majalaya
11. RSUD Bedas Kertasari
12. RSUD Bedas Tegalluar
13. RSUD Bedas Arjasari
14. RSUD Bedas Pacira
15. RSUD Cililin
16. RSUD Lembang
17. RSUD Cikalongwetan
18. RSUD Bedas Cimaung
19. RSUD Kab. Bekasi
20. RSUD Cabangbungin
21. RSUD R. Moh. Noh Nur
22. RSUD RH. Satibi
23. RSUD Kab. Ciamis
24. RSUD Kawali
25. RSUD Sayang
26. RSUD Cimacan
27. RSUD Pagelaran
28. RSUD Sindangbarang
29. RSUD Waled
30. RSUD Arjawinangun
31. RSUD dr. Slamet Garut
32. RSUD Bakti Pajajaran
33. RSUD Malangbong
34. RSUD Indramayu
35. RSUD Mursid Ibnu Syafiuddin
36. RSUD Karawang
37. RSUD Jatisari Kab. Karawang
38. RSUD Rengasdengklok
39. RSUD Bandung Kiwari
40. RSUD Kota Bandung
41. RS Khusus Gigi & Mulut Kota Bandung
42. RSUD Banjar
43. RSUD Asih Husada Langensari
44. RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid
45. RSUD Jatisampurna
46. RSUD Pondokgede
47. RSUD Bantar Gebang
48. RSUD Teluk Pucung
49. RSUD Kota Bogor
50. RSUD Cibabat
51. RS Daerah Gunung Jati
52. RSUD Khidmat Sehat Afiat Depok
53. RSUD Anugerah Sehat Afiat
54. RSUD R. Syamsudin, SH
55. RSUD Al-Mulk
56. RSUD dr. Soekardjo
57. RSUD Dewi Sartika
58. RSUD 45 Kuningan
59. RSUD Linggajati Kuningan
60. RSUD Majalengka
61. RSUD Cideres
62. RSUD Talaga
63. RSUD Pandega Pangandaran
64. RSUD Bayu Asih
65. RSUD Subang
66. RSUD Sekarwangi
67. RSUD Palabuhanratu
68. RSUD Idham Chalid
69. RSUD Sagaranten
70. RSUD Umar Wirahadikusumah
71. RSUD KHZ Musthafa Kab. Tasikmalaya
72. RSUD Tani dan Nelayan Tasikmalaya.
Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM menegaskan, kebijakan tersebut sekaligus mengubah pola penanganan pemerintah terhadap persoalan masyarakat. Selama ini, menurutnya, berbagai kasus yang muncul di tengah masyarakat kerap baru mendapatkan respons setelah sampai kepada dirinya secara langsung. Pola tersebut tidak mungkin diterapkan untuk seluruh warga Jawa Barat.
Karena itu, ia meminta pemerintah kabupaten/kota membangun sistem pemantauan yang mampu menangkap persoalan warga sejak dini, termasuk memanfaatkan informasi dari masyarakat dan media sosial. Dengan demikian, persoalan kesehatan yang muncul di lapangan dapat segera direspons tanpa harus menunggu warga mencari perhatian langsung kepada gubernur.
***





